Kamis, 12 Maret 2009

MEGALOMANIA

MEGALOMANIA
Kita perlu terus-menerus berjuang untuk membebaskan diri dari belenggu kuasa dosa, sehingga kita mampu melawan segala kecenderungan hati untuk meninggikan diri dan merebut kemuliaan Kristus. Tetapi harus kita ingat, bahwa pemulihan adalah karya keselamatan Allah. Dengan spiritualitas yang dipulihkan tersebut kita dimampukan untuk menjadi tangan Tuhan untuk memulihkan sesama. Itu sebabnya, jika kita mau menanggalkan segala ambisi dan dorongan “megalomania”, maka kita akan dipakai oleh Tuhan sebagai penyampai kabar baik yang efektif dan dilengkapi oleh kuasa Roh-Nya.
Hasil pemulihan dari Allah adalah sukacita. “Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: "TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!" TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita”( Mzm. 126:2-3). Saat kehidupan kita dipenuhi oleh kerendahan hati yang menundukkan diri di bawah otoritas kasih Allah, maka kehidupan kita akan dipenuhi oleh sukacita yang tidak dapat diberikan oleh dunia ini.
Sukacita lahir dari suatu ucapan syukur kepada Allah yang telah melaksanakan karya keselamatan-Nya. Bukankah dalam makna teologis yang sama rasul Paulus juga berkata: “Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (I Tes. 5:16-18). Inilah perbedaan esensial antara seseorang yang memiliki kecenderungan dan tipe “megalomania” (perasaan diri “besar dan penting”), dengan seseorang yang mengucap syukur atas karya keselamatan Tuhan. Seorang megalomania selalu “mengucap syukur” dan memuji-muji diri sendiri sebab dia merasa sangat istimewa. Padahal secara psikologis, seorang “megalomania” pastilah seorang yang sakit jiwanya dan tidak mampu hidup di dunia nyata tetapi hidup dalam delusi (keyakinan semu) atas impian dan bayangannya sendiri.
Sebaliknya seorang yang mengucap syukur atas segala karya keselamatan Tuhan pastilah seorang yang mampu menyadari keterbatasan dan kekurangan dirinya, namun serentak mampu menghargai dirinya sebab dia tahu bahwa Allah sangat mengasihinya. Itu sebabnya seorang yang hidup dalam pengucapan syukur tidak pernah memandang diri secara berlebihan (superioritas diri), tetapi juga tidak pernah memandang secara berkekurangan (inferioritas diri). Dia mampu memandang diri secara tepat menurut cara pandang dan penilaian dari Allah.
Oleh karena itu, sebelum kita sungguh-sungguh dapat menyampaikan kabar baik, kehidupan kita seharusnya dipenuhi oleh kabar baik yang membuat kehidupan kita berubah. Sebelum kita memberitakan tahun rahmat Tuhan telah tiba, kehidupan kita juga seharusnya dipenuhi oleh rahmat Tuhan yang membebaskan.
Peran dan pelayanan seorang utusan Allah akan bertambah efektif ketika kehidupan rohaniahnya senantiasa terbuka untuk diubah dan diperbaharui oleh Allah. Tetapi sebaliknya, segala karunia dan berkat rohaniah yang diterima dari Allah menjadi lumpuh ketika dia membiarkan dirinya untuk dikuasai oleh dorongan/ambisi “megalomania” (perasaan diri penting dan besar). Itu sebabnya pada masa prapaska ini merupakan saat yang sangat tepat bagi kita untuk diubah dan diperbaharui oleh Tuhan agar kita dapat menyaksikan karya dan kemuliaan Kristus kepada orang-orang yang ada di sekitar kita. Untuk itu kita perlu menguji segala sesuatu dan memegang yang baik sampai kedatangan Tuhan Yesus (I Tes. 5:21); termasuk pula kesediaan untuk menguji diri sendiri sehingga kita dapat memerankan sebagai utusan kabar baik yang semakin efektif dan berkenan di hadapan Tuhan.
Bob Dylan menulis dalam syair lagu yang diinspirasi oleh sikap Yohanes Pembaptis bahwa dia bukanlah Messias, yaitu: “You say you’re looking for someone who’s never weak but always strong / to protect you and defend you whether you are right or wrong, / someone to open each and ev’ry door, but it ain’t me, babe. . . / It ain’t me you’re looking for." (Kamu katakan mencari seseorang yang tidak pernah lemah tetapi selalu kuat untuk melindungi dan menjaga dirimu apakah kamu berlaku benar atau salah, seseorang yang membuka setiap pintu, tetapi itu bukanlah aku … Itu bukan aku yang sedang kamu cari).
==========doc.jsk.120309======================================

Senin, 09 Maret 2009

TETESAN EMBUN JEES: MARET 2009

Maret 2009 Berserah dalam Pelayanan

METANOIA NO. 03/Th. I/3/2009

Mengapa Tetesan Embun?

Aku minta Tuhan menyingkirkan deritaku, Tuhan menjawab, “Tidak, itu bukan untuk Kusingkirkan tetapi agar kau mengalahkannya.Aku minta Tuhan menyempurnakan kecacatanku, Tuhan menjawab, “Tidak, jiwa itu sempurna, badan hanyalah sementara.”Aku minta Tuhan memberiku kesabaran, Tuhan menjawab, “Tidak, kesabaran adalah hasil dari kesulitan. Itu tidak dihadiahkan tapi untuk dipelajari.”Aku minta Tuhan agar memberiku kebahagiaan, Tuhan menjawab, “Tidak, Aku memberimu berkat, kebahagiaan itu tergantung padamu.” Aku minta Tuhan menjauhkanku dari penderitaan, Tuhan menjawab, “Tidak, penderitaan menjauhkanmu dari perhatian duniawi dan membawamu dekat kepada-Ku.”Aku minta Tuhan menumbuhkan Roh, Tuhan menjawab, “Tidak, kau harus menumbuhkannya sendiri,tetapi Aku akan memangkas setiap ranting kering untuk membuat kamu berbuah.”Aku minta Tuhan segala hal yang membuatku menikmati hidup, Tuhan menjawab,“Tidak, Aku akan memberimu hidup, sehingga kau dapat menikmati segala hal.”Aku minta Tuhan membantuku mengasihi orang lain seperti Ia mengasihi aku, Tuhan menjawab:

“Ahhhhhhh……akhirnya kau mengerti. Hari ini adalah milikmu. Jangan sia-siakan. Tuhan memberkatimu. Bagi dunia mungkin kau hanyalah seseorang tetapi bagi seseorang kau mungkin dunianya.” (Clara Cyndi)

REFLEKSI:

Wajah-wajah

Wajah memegang peran penting dalam pergaulan hidup bersama. Wajah cerah mengusir hati susah. Wajah gerah, membuat hati gundah. Senyuman manis di wajah membuat hidup bersama jadi indah.

Sayang, kini, wajah tidak lagi menampilkan hati. Wajah menyembunyikan isi hati. Wajah tidak lagi menunjukkan isi hati. Mengapa? Kemunafikan, jawabnya. Yang kita temukan, dalam hidup sehari-hari, wajah kebohongan, pura-pura, bertopeng, bunglon. Manusia modern, manusia seribu wajah!

Alangkah indahnya hidup bersama bila wajah-wajah memancarkan kecerahan, keramahan, kasih, sebagai pantulan jiwa murni, tulus, suci.. Surga!

Sebaliknya, betapa gerah hidup ini, bila setiap saat kita berjumpa dengan wajah-wajah lusuh, keruh, garang, penuh curiga, dan semena-mena. Neraka!

Kita semua merindukan kehidupan bersama yang saling pengertian, saling memahami, saling mengakui, mendukung, menerima, dan saling menyempurnakan. Sehingga, hidup bersama bukan hanya kumpulan wajah yang saling menipu, tetapi pancaran hidup dan perjuangan hidup. Bukankah bila hati kita tulus-ikhlas-jujur, wajah cerah penuh gairah? Bukankah hati yang baik-sabar, lebih mulia daripada wajah tampan atau jelita?

“Jiwa yang telah menyaksikan hantu kematian tak dapat ditakut-takuti oleh wajah pencuri, prajurit yang telah melihat pedang di atas kepalanya dan aliran darah di bawah kakinya tak peduli batu-batu yang dilemparkan kepadanya” tulis sang penyair agung, Khalil Gibran.

Wajah manusia bijaksana memiliki jiwa berani. Audentes Deus ipse invat: Tuhan selalu menolong orang yang berani. Berani berkata tidak, berani menentang arus, berani berkata ya, berani membela yang tersisih-tergusur- terpinggirkan,

Betapa banyak orang, pada era global ini, lupa memperhatikan kebutuhan jiwanya. Negeri ini dipenuhi wajah-wajah pemburu harta, kekayaan, jabatan, status. Kita lupa, ”Apakah gunanya orang memperoleh seluruh dunia, bila kehilangan jiwanya?”(Matius 16:25)

Wajah-wajah yang kita jumpai setiap harinya: manusia bertindak ngawur, karena jiwanya rendah, tidak jujur, dan tidak luhur. Bahkan, sering tingkah lakunya aneh, supersibuk, penuh tanya karena jiwa tak pernah terpelihara.

Wajah keluarga, wajah masyarakat, wajah bangsa, wajah negara, dan juga wajah gereja sering carut-marut karna wajah manusia carut-marut pula. Sebaliknya, keluarga-masyararakat-bangsa-negara, juga gereja, indah mempesona bila wajah manusia indah mempesona!

Metanoia adalah jiwa murni. Karna, hanya jiwa yang terpelihara, jiwa yang berani dan suci, jiwa yang bijaksana mampu menjadikan keluarga-masyarakat-gereja menjadi GTR (garam-terang-ragi). Tak ada guna kita berpantang atau berpuasa bila jiwa murni tak kita miliki! .

. “Pergilah ke seluruh dunia, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” (Matius 28:19-20)

INSPIRASI

BINTANG

Tak asing bagi kita: bintang di langit. Tak terbilang jumlahnya. Mempesona malam terang. Menggedor kesadaran batin-rohani bila lama-lama berhening dengannya pada keheningan malam.

Bintang adalah simbol harapan. Tak percaya? Gantungkan cita-cita setinggi bintang di langit. Anak keturunanmu akan seperti bintang di langit. (Janji Tuhan pada Abraham). Bintang juga simbol keberhasilan dalam hidup: bintang kelas, bintang lapangan, bintang film, dlsb.

Tapi, pernahkan Anda berpikir bahwa bintang adalah simbol kesetiaan?

Bintang selalu setia. Tak pernah lelah, sakit hati, minder, memfitnah, dan tak kenal surut langkah. Tidak percaya? Bintang selalu bersinar, pada waktu siang, meski kalah sinar dan dayanya dengan matahari. Bintang tidak pernah melawan atau ramai-ramai mogok dan demo. Bintang dengan penuh kesetiaan tetap bersinar walau sinarnya kalah dengan sinar matahari.

Laut

Apa yang menarik dari laut? Apa yang dapat kita banggakan dengan sebutan negeri maritim. Pernah saya presentasi di hadapan Tim Penguji Departemen Kelautan (2004) bahwa masa depan Dunia ada di Laut Indonesia.

Bahkan, dari budidaya udang, kita bisa bayar utang. Namun kenyataannya? Kita tidak pernah belajar dan berefleksi tentang laut.

Laut adalah simbol totalitas jiwa rohani manusia. Apa pun yang dibawa aliran sungai tak ada yang ditolak, dipilah, atau ditunda. Semua yang terbawa arus deras sungai diterimanya dengan ”kepasrahan mendalam”. Pasti bukan sebuah kekalahan. Pasti bukan ketidakberdayaan. Air keruh, berlumbur, kotor, tercemar direngkuh-diterima dengan penuh kasih-cinta.

Laut adalah simbol kebijaksanaan dan religiositas. Tak haran banyak penyair menggunakan Laut sebagai simbolisasi interpretasi hidup dan kehidupan.

Memang, indah sekali, bila manusia mampu menjalani hidup dan kehidupan seperti laut. Menerima segala sesuatu dan mengubahnya hingga menjadi ”daya hidup” dan ”sumber hidup” manusia atau biota laut.

Angin

Angin semilir di pegunungan sangat menyejukkan. Sangat diminati orang kota pada akhir pekan. Tak mengeherankan tanah-tanah di bukit atau pegunungan, kini, telah bergeser kepemilikan. Banyak villa dibangun. Sebagai tempat istirahat di kala badan penat atau pikiran kusut.

Angin gunung beda dengan angin laut. Angin laut biasanya kurang bersahabat. Bikin penyakit. Sama halnya dengan badai gurun. Meski masih sekerabat, badai gurun bikin orang takut. Kini, yang menjadi musuh manusia global adalah angin puting beliung. Bikin sengsara, bikin kalang kabut.

Hanya, yang memikat dari angin: tak pandang bulu. Tetangga ”goreng” ikan asin, kita ikut menikmati. Goreng bawang merah, ikut menelan air liur. Tak ketinggalan, teman yang duduk di sebelah, lalu buang angin, kita pun kalang kabutan.

Bila angin bisa dan mampu menjalani perannya tanpa pandang bulu, tanpa pilih kasih. Bergaul dan berbagi dengan siapa saja, mengapa manusia ’enggak bisa’ya? Aneh!

Ombak

Bila kecil sangat bersahabat. Orang berduyun-duyun tamasya ke pantai, tujuannya satu: bermain dengan ombak. Tapi, jangan tanya kalau membesar. Aceh, pangandaran, luluh lantak karena ”ombak besar”. Kapal nelayan, kapal ferry jungkir balik karena ombak.

Dan, kita pun lebih senang bersemangat ombak: ”bergulung-gulung di tengah lautan luas, hilang tak berbekas di tepian. Menggebu, bersemangat, berkobar-kobar: ingin ini, itu,,,tapi ada kesulitan lalu menghilang. Persis kura-kura, bersembunyi di bawah batoknya yang keras. Heran!!

PESONA

Adalah Eny Kusuma penulis buku ANDA LUAR BIASA yang menggagas sebuah refleksi mendalam-menusuk relung kalbu-menyemangati menata hati: REVOLUSI BABU

Eni Kusuma, 31 tahun, lahir di Banyuwangi. Bungsu dari tiga saudara. Akrab dengan kemiskinan-beban hidup-cobaan hidup. Rumahnya pun dekat TPA! Rajin mengaji, sekolah, dan memulung sampah. Ia pun rajin membaca: sobekan buku, koran, majalah yang berserak.

Eni kecil tumbuh sebagai gadis pemalu, pendiam, dan susah bicara. Ia gagap. Maka, ia lebih suka tinggal di rumah daripada bergaul dengan teman sebaya. Atau, sibuk membantu ibunya membuat kue atau membantu ayahnya membuat kerupuk. Eny berhasil menamatkan SMA Negeri 1 Banyuwangi. Tetapi, berulang gagal memperoleh pekerjaan.

Setelah ”MBABU” di Hongkong, Eny dapat membantu ekonomi keluarga. Yang paling membahagiakan: ia bisa membeli buku-buku yang ia suka: penting dan perlu. Pertama, ia belajar menata hati. Menata hati, yang kini hilang dalam hidup manusia, merupakan modal utama untuk do and give the best. Kedua, ia tidak pernah merasa ’tidak bisa’ sekalipun divonis orang ’tidak bisa’..

Eni selalu berpikir positif. Singkat cerita, ia buktikan ”kata orang” memang tidak perlu ditanggapi. Tulisan-tulisan Eni Kusuma muncul di Pembelajaran.com dan sejumlah media: di Hongkong maupun Indonesia.

Eni aktif di banyak milis yang dimoderatori para motivator, penulis senior, dan sastrawan. Bahkan, ia menjadi moderator milis Backhomers bersama rekannya Kristoper David (mahasiswa ITS). Eni menggagas rubrik SO WHAT GITU LOH, yang menjadi idiom anak muda lima tahun terakhir. Ia menulis puisi, novel, dan buku ANDA LUAR BIASA. Adakah hal-hal luar biasa dari Eni Kusuma?

Kita semua adalah babu; selaras dengan kedudukan dan profesi kita. Menjadi babu, menjadi pelayan, seperti kata Maria: fiat me meus est servus Dei (Lukas 1:38)

Ringkas refleksi dari penyapu jalan hingga presiden adalah BABU. Dus, Indonesia akan gemah ripah loh jinawi bila semua komponen bangsa menyadari mengabdi dengan kesabaran dan tanggung jawab.

Kamis, 12 Februari 2009

JS KAMDHI: TETESAN EMBUN FEBRUARI

Februari 2009 Berserah dalam Pelayanan

MENTRADISI NO. 02/Th. I/2/2009

SAPAAN

Mengapa Tetesan Embun?

Ada beraneka kegunaan gelas. Di antaranya, untuk minum dan status sosial. Harga pun beragam; ribuan dan jutaan. Status pengguna pun beragam. Dari mereka yang di gubuk kartun hingga istana negara. Isi gelas, lebih beragam; air putih, kopi, teh, susu, anggur, sirup, hingga yang beralkohol.

Secara analog, agama dan keberagamaan seperti gelas dan isi gelas. Agama lebih menunjuk kepada kelembagaan kebaktian pada Tuhan dengan segala aspeknya: yuridis, resmi, peraturan, hukum, ritual, serta seluruh organisasi tafsir alkitabiah.Termasuk di dalamnya institusinya!

Sedang, keberagamaan atau religiositas lebih melihat dalam lubuk hati, riak getaran hati-nurani pribadi, sikap sembah, sikap tobat, yang sedikit banyak misteri bagi orang lain karena merupakan intimitas jiwa, cita-rasa yang mencakup totalitas jiwa.

Religiositas, sebagai isi gelas, harus diperjuangkan setiap saat meski harus dengan jatuh-bangun, gagal-sukses, bersemangat-loyo. Religiositas menunjuk pada ”kuatnya relasi dengan Tuhan sebagai awal-akhir kehidupan”

Pertanyaan kita, mengapa banyak orang ”bergelas kosong atau sedikit berisi”? Mengapa, di negeri berketuhanan ini, orang hanya sibuk dengan bentuk, harga, dan kegunaan gelas?Mengapa orang tidak berusaha dan berjuang dengan sepenuh hati dan jiwa bagaimana mengisi gelas hidupnya?

REFLEKSI:

DO THE BEST, GIVE THE BEST

Segala sesuatu yang kaulakukan kepada saudara-Ku yang paling hina, itu kaulakukan kepada-Ku(Matius 25:40)

Sebuah dongeng India mengisahkan seorang petani yang membawa satu karung gandum di pundaknya. “Berilah saya sejumlah gandum,” kata Tuhan. Petani itu pun memberikannya ikatan terkecil.

Tuhan terima gandum itu. Diubahnya, menjadi emas. Dan, diberikannya lepada petani. “Kenapa aku hanya berikan untaian yang terkecil. Kenapa tak kuberikan separuh dari gandumku,” sesal petani.

Orang yang sulit memberi, sedikit menerima. Benarkah? Bukankah benda yang dilempar ke atas, pasti jatuh? Jujur harus kita akui bahwa kita, sebenarnya, menerima lebih dulu baru memberi. Menerima dari orangtua, sanak-famili, handai-taulan, dari Tuhan. Karena kita telah menerima (sudut datang), selayaknyalah kita memberi (sudut pantul). Dengan memberi, kita menrima.

Zaman ini, memberi semakin sulit dilakukan. Memberi menjadi beban, sesuatu yang berat. Memberi dipahami sebagai kehilangan. Kini, semuanya diukur dengan uang. Il n’y a pas d’argent, il n’y a pas d’aisance. Tidak ada uang, tidak ada persahabatan.

Eric Fromm, pakar psikoanalisis dari Amerika pernah berkata, ”Kesalahpahaman yang sudah umum adalah memberi diartikan sebagai menyerahkan sesuatu, kehilangan sesuatu, mengorbankan sesuatu. Orang menjadi berkekurangan karena memberi itu kehilangan. Orang yang berkecukupan memberi merupakan tanda kekuatan, kehebatan, kebanggaan. Mereka lupa memberi lebih membahagiakan daripada menerima, bukan kekurangan tetapi wujud kuatnya religiositas.”

Do the best, give the best” harus menjadi pegangan dan pedoman hidup. Menjadi arah dan perjuangan hidup. Mengapa? Memberi dan melakukan yang terbaik berarti memberi dan melakukan untuk Tuhan: terlibat dan melibatkan diri dalam penebusan, penyelamatan, dan menjadi alter Christi.’

Berapa banyak orang yang sakit jiwa. Banyak orang lebih suka menjadi ‘be athers’: hidup dalam dunia mimpi, dalam dunia khayal. Menjadikan dirinya Tuhan: hantam sana-sini, pukul sana-sini. Demi alasan semu! Sebab, orang yang tahu sedikit akan berbuat di luar batas kewajaran, orang menjadikan dirinya Tuhan: dengan memberi stigma orang lain kafir, sesat, bejat.

Tuhan menciptakan semua orang dengan kelebihan dan kekurangan. Dengan kelebihannya manusia harus berbagi sehingga kekurangan dimiliki menjadi hilang. Sebaliknya, kelebihan yang Tuhan anugerahkan berlipat ganda sehingga menghapus segala kekurangan.

Kelebihan-kekurangan yang kita miliki saling melengkapi. Kelemahan menyadarkan kita untuk rendah hati, refleksi, mawas diri, selalu berbenah, dan membangun relasi. Sedangkan kelebihan, menjadikan orang berendah hati manakala menyadari kekurangannya.

Tuhan tidak pernah mempersoalkan etnismu apa, kamu kaya atau miskin, kamu berpendidikan atau buta huruf. Tuhan selalu mendorong kita! untuk DO THE BEST. GIVE THE BEST

INSPIRASI

Pohon Pisang

Pernah memperhatikan pohon pisang? Barangkali lepas dari perhatian kita. Meski, kita sering mengonsumsi, namun toh kita jarang memperhatikan. Padalah, pohon pisang luar biasa. Betapa tidak? Di satu pihak, seluruh bagian pohon pisang memiiki nilai tinggi: batang, daun, pelepah, buah. Di pihak lain, daya hidup yang luar biasa. Sore hari kita tebas, pagi hari sudah bertunas. Pagi kita tebas, menjelang petang bertunas. Seribu kali kita tebas, seribu kali pula bertunas.

Pohon pisang tak akan menyerah. Ada daya yang luar biasa. Ada kekuatan, daya hidup, daya tumbuh. Tak padam semangat. Tak pupus harapan.

Pohon pisang tak surut langkah. Baru menyerah setelah mengahssilkan buah.

Dengan baptisan, selayaknya kita pun seperti pohon pisang. Tak kan pernah berhenti dalam menebar kasih. Bukankah dengan baptisan, immanuel ada dalam hati kita?

Pohon Jati

Apa yang kita kenal dengan pohon jati? Spontan kita akan menjawab: daunnya. Bukankah daun jatimenjadi trade mark ”wong cerb0n?: nasi jamblang.

Bila kita cermati, pohon jati adalah pohon yang cerdas. Sangat cerdas. Betapa tidak? Menjelang musim kemarau, pohon jati akan ”merontokkan daunnya”. Sehingga, ketika kemarau panjang menjelang, hutan jati hanya dipadati pohon tanpa daun.

Demikian halnya, menjelang musim penghujan, tunas muda bersemi menghadirkan pemandangan mempesona, indah tak terperi.

Pohon jati, pohon cerdas. Seolah ada daya luar biasa untuk masuk dalam situasi. Berkemampuan menyesuaikan diri tanpa kehilangan ”jati diri”: Apakah kita juga cerdas layaknya pohon jati? Atau tergerus arus peradaban, tak berdaya laruk dalam pencarian sia-sia?

Ilalang

Bagi petani, ilalang menjadi kawan dan lawan. Kawan, karena daripadanya dapat dibuat menjadi atap rumah yang perkasa. Peneduh waktu panas atau hujan. Lawan, karena menjadi pengganggu daya tumbuh tanaman.

Bagi orang kreatif ilalang memiliki “harga tinggi”: lukisan, anyaman, atau kerajinan lainnya.

Dalam dunia persilatan, ilalang menghadirkan jurus-jurus perkasa-kokoh-mematikan. Tak heran, tumbuhan ilalang menjadi simbol : tak berdaya tetapi perkasa. Betapa tidak?

Ilalang akan menantang-menerjang apa pun yang dihadapi. Topan yang berhembus kuat dari selatang dihadang dan diterjang. Meski, harus jatuh terkulai, namun akan tegak berdiri lagi. Badai menerjang dari timur, dihadapi dengan percaya diri, terkulai, tetapi tetap bangun dan tegak berdiri. Demikian juga bila angin datang dari barat atau utara, ilalang akan menghadangnya!

Pohon Kelapa

Seharusnya, hidup rakyat negeri ini makmur-sejahtera. Lihat saja, dari pohon kelapa. Seluruh bagiannya, mampu memakmurkan rakyatnya. Meski kenyataannya, sengsara.

Sabut kelapa mimiliki nilai ekonomis tinggi, batok kelapa, kopra, lidi, daun kelapa, dan batangnya. Luar biasa! Tak ada yang terbuang.

Buah kelapa tidak sama besar, meski satu tangkai. Ada yang besar, ada yang kecil. Ada yang berkualitas, ada yang “kurang bermanfaat”.

Dalam hidup nyata, sering kita lupa: menuntut anak-anak kita dengan usuran yang sama. Bahkan, kita memanding-bandingkan: kakakmu lebih rajin, lebih pintar, menurut, Sedang kau, apa yang dapat dibanggakan.

PESONA

Soe Hok Gie namanya. Harum mewangi. Terpatri dalam hati setiap anak muda yang “cinta”: kebenaran, kejujuran, keberanian, ketulusan, pengorbanan, dan keberpihakan pada yang hina-papa.

Lahir 17 Desember 1942. Meninggal 16 Desember 1969. Hidup yang begitu singkat, Nahum menorehkan sejarah keberanian melibas kemunafikan, kesewenangan.

Tak heran bila Mira Lesmana dan Riri Reza mengabadikan perjalanan hidup Soe Hok Gie menjadi sebuah tontonan memikat-mengharukan dalam film GIE. Film Gie diangkat dari buku Soe Hok Gie berjudul Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran setebal 494.

Setelah lulus SMA Kanisius . kuliah di UI, menjadi dosen, mendirikan MAPALA UI.

Semasa mahasiswa, gerakan dan sepakterjan Gie diyakini berpengaruh tumbangnya Orde Lama. Meski, harus kecewa, teman-teman seperjuangan “bermuda ganda” (persis aktivis reformasi): menumbangkan rezim, mengulangi sepak terjang rezim yang ditumbangkan.

Menarik sekali mencermati komentar DR John Maxwell, yang yang sangat terpesona pada sosok Gie dalam bukunya Soe Hok Gie Pergulatan Intelectual Muda Melawan Tirani, berikut ini:

Gie hanya seorang mahasiswa dengan latar belakang yang tidak terlalu hebat. Tapi dia punya kemauan melibatkan diri dalam pergerakan. Dia selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan bangsanya. Walaupun meninggal dalam usia muda, dia meninggalkan banyak tulisan. Di antaranya berupa catatan harian dan artikel yang dipublikasikan di koran-koran nasional” ujarnya. “Saya diwawancarai Mira Lesmana (produser Gie) dan Riri Reza (sutradara). Dia datang setelah membaca buku saya. Saya berharap film itu akan sukses. Sebab, jika itu terjadi, orang akan lebih mengenal Soe Hok Gie”

Minggu, 18 Januari 2009

JS KAMDHI: TETESAN KEPRIHATINAN (KOMPAS FORUM)

Anggota dewan seumur hidup

menjadi anggota dewan seumur hidup, waaah enaknya
pensiun komisaris, direktur, menteri, menjadi gubernur atau bupati,
waaah enaknya

lalu kemana anak-anak bangsa
yang masih penuh idealis dan cita-cita?
waaah, susahnya

coba bayangkan untuk mendapat kerja
ada persyaratan pengalaman sekiannnn tahun
waaah, susahnya

bagaimana mendapat pengalaman
bila lulus S1 atau S2
semua pintu tertutup rapat

Lho, lha iya...

bayangkan saja sejak 1971 di senayan
sekarang masih genthayangan dengan partai baru
pensiun ini-itu (gila nggak usia pensiun 70 tahun-un)
ngebet jadi anggota dewan, bupati, walikota, gubernur

tolong dong ah, lembaga survei-vei
itunglah
jangan hanya yang itu-itu melulu

hidup anak muda yang berdikari

Edit/Delete Message

Kapitalis

konversi minyak tanah menjadi gas bikin kalang kabutan
minyak tanah menghilang
gas menguap
lagi-lagi rakyat sengsara

dan
kalian terbahak, " Siapa bisa melawanku?
kita harus licin seperti belut
rakus seperti tikuss!

Kapitalis-lis

ekonomi kita ekonomi kapitalis
gula petani diterjang gula impor kapitalis
beras petani terkubur beras impor kapitalis
bawang-merah membusuh karna bawang-merah impor kapitalis
bahkan, sekolah-sekolah tlah dijual oleh kapitalis
kota besar-kecil dipenuhi supermarket dan minimarket kapitalis

rakyat tetap tidak sejahtera
sampai kapan?

JS KAMDHI : TETESAN KEPEDULIAN (KOMPAS FORUM)

Penggusuran

selalu dan terus terjadi di seluruh pelosok negeri
berpuluh tahun telah menghuni
bayar listrik, air, dan jasa rukun warga
kenapa di negeri berperikemanusiaan lebih tidak manusiawi
kenapa di negeri berkeadilan lebih banyak yang ditumbalkan

Edit/Delete Message

Bertahun-tahun

bila telah menghuni berpuluh tahun
punya listrik
punya telpon
siaptah yang salah

Edit/Delete Message

Silaturahmi...

jakarta memang pesona
sebab uang-kuasa-kenikmatan berpusat di sana

setiap habis lebaran bertambah pendatang
lha, apakah pernah ada silaturahmi
antargubernur DKI dengan gubernur tempat asal rakyat
yang mengadu nasib di DKI

bicara dari hati ke hati mencari solusi...

Edit/Delete Message

Pamong Praja

mengapa harus menggertak-memukul-menyita
mengapa tegur sapa-silaturahmi tidak terjadi
yang kalian hadapi bukan tapir atau badak
mereka manusia yang punya nyali demi anak-istri
tidak dengan mencuri-merampok-korupsi

Pamong Praja?
pahamkah kalian maknanya?

Edit/Delete Message

Lha, Iya ya...

lha itu masalahnya
ada yang diadu domba
di mata jelata siapa yang bengis tak berperikemanusiaan
satpol PP kan?
kenapa penghuni tergusur
bisa punya saluran listrik, telepon, gas, atau PDAM
bayar ini-itu
sah sebagai penghuni
tapi sah dikorbankan

Edit/Delete Message

Kedongdong...

halus, bersih, memikat di luar
berserabut di dalam
inilah kepemimpinan kita saat ini

munafik!
miris hati ini setiap saat baca dan lihat
anak bangsa dipukul-dirampas hak usaha dan hak hidup
bukankah mereka pemilih sah negeri ini?
bukankah UUD 1945 menjamin mereka?

Kepiting


beribu-ribu kepiting memasuki gedung-gedung perkantoran
gesit-lincah
beribu-ribu orang lapar menangis
di jalan raya
di tempat gusuran
di trotoar-trotoar

kepiting sawah pandai membuat lubang
kepiting pantai piawi berjalan mundur

wah,
berjuta-juta kepiting sawah-pantai
berbaris rapi dari sabang-merauke

Heran...

sekolah berlomba-lomba bilingual
bukan pencerdasan anak bangsa
bukan memanusiakan manusia muda

sekolah berlomba-lomba (bahkan untuk TK)
menjadikan tunas bangsa sebagai balon
bukan tanaman muda

aku bertanya
tidakkah akan hilang kebanggaan
berbahasa satu bahasa Indonesia
bernegeri satu negeri Indonesia

Kenapa...

kenapa tikus-tikus sawah tidak ditembak mati saja Pak Polisi?
kenapa
antek-antek kapitalis penyengsara petani (aku anak petani dari Sleman yang rindu
pulang)
diberi ampunan?

Pak Polisi, usut sampai ke sarangnya
selaksa derita
petani rasa
panen raya, beras impor melindas
tebu rakyat menjadi gula, gula
impor melindas

tikus-tikus sawah antek-antek kapitalis
adalah jilmaan sarpakena
yang srakah
dan licik

Lho, lha iya...

bayangkan saja sejak 1971 di senayan
sekarang masih genthayangan dengan partai baru
pensiun ini-itu (gila nggak usia pensiun 70 tahun-un)
ngebet jadi anggota dewan, bupati, walikota, gubernur

tolong dong ah, lembaga survei-vei
itunglah
jangan hanya yang itu-itu melulu

hidup anak muda yang berdikari

Kamis, 15 Januari 2009

JS KAMDHI: TETESAN EMBUN JANUARI 2009

TetesaN Embun

Januari 2009

Berserah dalam Pelayanan

TAHUN BARU NO. 01/Th. I/1/2009

Mengapa Tetesan Embun?

Kini, kebenaran telah punah di negeri jamzrud khatulistiwa. Kebohongan, pura-pura, kepalsuan, bertebaran di setiap jengkal. Terganggulah relasi. Hilanglah dialog batin rohani. Suasana hidup penuh rekayasa. Basa-basi, tak ada spontanitas.

Sayang, banyak orang menolak yang benar. Yang benar menjadi samar. Yang jujur menjadi hancur. Yang adil menjadi kerdil. Yang setia merana! Menyatakan dan mengatakan yang tidak benar menjada ”gaya hidup”. Benarlah filsuf-penyair John Wolgang von Gothe, ”Kebenaran adalah cahaya yang menyilaukan, sehingga orang lebih suka menutup mata.”

Dari dunia binatang kita bisa belajar bagaimana berinteraksi, bersosialisasi, dan bertahan dalam tantangan-himpitan-cobaan. Seolah, binatang dibekali kemampuan menyesuaikan diri. Ikan, misalnya, meskipun hidup di laut dengan air yang asin, tetapi tidak menjadi asin. Ada daya yang luar biasa hingga tak dilibas situasi, tetapi mampu menciptakan situasi. Tidak terkondisikan, tetapi mengkondisikan.

Lalu, dengan langkah dan gerak jiwa manakah tahun baru, 2009, akan kita jalani?

Menjadi CITRA ALLAH

Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita dengan lidah kita mengutuk manusia yang dicipta serupa Bapa dan dari mulut yang satu keluar kutuk dan berkat (Yakobus 3: 9-10)

Banyak orang mudah takut dan bingung. Banyak orang mudah marah tanpa sebab. Banyak orang mudah gelisah. Cemas, was-was, khawatir tanpa tahu mengapa harus demikian. Banyak orang menjadi cuek, masa bodoh, apatis tanpa tahu mengapa harus bersikap begitu.

Hal tersebut sangat manusiawi. Sebab, dalam hidup keseharian, kita hanya berhenti pada suasana yang tercipta atau kita ciptakan. Kita berdiam diri, menyerah, pasrah. Tak bernyali menjari solusi. Atau, mencari ’causa prima’; penyebab utamanya.

Dalam situasi ini kita menghindar dan berkelit. Seolah, tidak terjadi apa-apa. Kita menyimpan dalam-dalam ke alam bawah sadar. Tak ada daya membongkar dan memperbaharui, menanggalkan dan mengenakan, menafsir dan menaksir ulang arah dan tujuan hidup. Tak ada keberanian dan kejujuran untuk kembali ke panggilan kodrati: menjadi citra Allah.

Menjadi citra Allah tidaklah mudah-populer-memikat untuk saat ini. Terlebih, di tengah dunia yang mengagungkan kemewahan, penampilan, lahiriah, instan menjadi citra Allah adalah kontroversial-kampungan-kuno-udik. Sehingga, harga diri dan jatidiri sebagai ’ciptaan yang paling agung telah hilang dari bumi yang berketuhanan. Lihat saja, siapa yang menghuni Lembaga Pemasyarakatan? ”Orang-orang terhormat” dan ”kaum cerdik-pandai”!

Santo Agustinus, Uskup dan Pujangga Gereja, menyodorkan empat karya besar sebagai solusi menjadi citra Allah: Confessiones, De Trinitate, De Natura et Gratia, dan De Civitate Dei.

Setiap orang harus bertobat (confessiones) agar menemukan Bapa-Putra-Roh Kudus (De Trinitate). Dengan demikian hidup dan kehidupan dihayati sebagai rahmat dan karunia (de natura et gratia): suka-duka, gagal-sukses, gembira-sengsara, sakit-sehat. Dengan demikian, Tuhan merajai hidup dan kehidupan (de civitate Dei). Dengan bertobat-mengalami-mensyukuri-melakukan kehendak-Nya, kita menjadi citra Tuhan. Tanpa keempat Jalan Agustinus tidak mungkinlah kita rukun pada diri sendiri, rukun pada sesama, rukun pada alam semesta.

Kesadaran akan jalan kesadaran Agustinus, setiap orang beriman kristiani akan menjadi garam, terang, dan ragi. Selalu terlibat dan melibatkan diri dalam pemberdayaan dan penebusan. Cepat mengerti, lambat mengadili. Cepat menangkap, lambat komentar!

Mengapa harus cemas-gelisah-takut-khawatir bila kita hidup dalam citra Allah? Kita akan semakin kuat dan tahan banting. Cepat mengampuni dan cepat melupakan kesalahan orang. Dan, seperti Daud kita mengucap setiap saat, ”Sekalipun berjalan di lembah kelam, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.”

Pertolongan Tuhan kepada kita menjadi nyata dalam dan melalui aneka perlakuan yang terarah pada kita, entah yang enak maupun tidak enak, yang sesuai atau tidak sesuai dengan selera pribadi kita.

"Jangan takut kesulitan sebelum kesulitan menyulitkanmu"


INSPIRASI

Berkat Tuhan

Pada musim hujan seperti ini, air sungai akan tampak keruh. Dapat dipahami karena lumpur, sampah, terbawa arus. Hanya, satu hal yang pasti ikan-ikan tetap bertahan. Tetap lincah. Gembira-ria.

Keruhnya air diyakini melimpah rezeki. Makanan berlimpah. Ikan-ikan berpesta. Dan, hanya ikan-ikan yang melompat dari keruhnya airlah yang kelaparan. Ikan-ikan yang kawatir akan mati, hidup tak nyaman, dan menghindar dari keruhnya air.

Rahmat di balik penderitaan, itulah kenyataan”. Jika Anda bertanya bagaimana mungkin ikan dapat mencari makanan di air keruh, silakan Anda merenungi hidup Anda dengan bertanya, ”Bagaimana mungkin Anda dapat mempe-roleh berkat dari keruhnya sungai kehidupan?”

Blencong

Blencong (bukan bencong) adalah lampu di atas Ki Dalang pada saat mengadakan pertunjukan wayang kulit. Karena blencong itulah lahir bayangan yang bisa ditonton di balik layar (kelir) tempat Ki Dalang memainkan wayang. Ada bayangan yang mengganggu pertunjukan, bila kelir (layar) itu kotor dan bernoda. Bayangan akan menjadi kabur, apalagi bila wayang jauh dari kelir.

Wayang adalah penghadiran kehidupan manusia. Setiap orang memiliki peran: raksasa, satria, cendekia, pendeta, prajurit, raja, ratu. Peran akan berakhir bila pertunjukan Ki Dalang telah berakhir.

Orang lain melihat bayangan kita, perilaku dan jatidiri kita, dari balik kelir/layar pertunjukan. Hati yang culas, kotor, penuh curiga, materialis, hedonis menciptakan bayang-bayang yang suram-kabur. Sebaliknya, jiwa murni-tulus-suci-rendah hati akan menghadirkan bayangan penuh pesona, mimikat, dan enak ditonton. Sinar kasih Allah akan memancar dan memantulkan kasih, harapan, dan daya juang.

Semprong

Pernahkah Anda mendengar kata semprong. Kue semprong sangat gurih, enak, dan lezat. Sebagai cemilan kue semprong sangat diminati.

Di pedesaan, semprong berkaitan dengan masak-memasak. Semprong yang satu ini sempat menghilang. Orang meninggalkan karena takut dibilang ”kutu kupret”

(pinjam istilah Tukul). Kini, semprong yang terbuat dari satu ruas bambu ini diminati lagi: akibat konversi minyak tanah sehingga masak-memasak kembali menggunakan kayu bakar. Dus, bila api padam, semprong digunakan untuk ’menghidupkan api” dengan cara ditiup.

Masih di pedesaan ”semprong yang ini” berkait dengan penerangan. Terbuat dari kaca, tipis, dan digunakan untuk melindungi ”nyala api dari dian”. Sering, semprong berjelaga karena sumbu minyak sering bernyala terlalu besar. Kalau sudah demikian, sinar menjadi buram.

Kita pun semprong juga. Tentu, semprong terakhir . Nyala api adalah Sang Immanuel. Kitalah semprongnya. Berjelagakah kita?

Kepiting Pantai

Pernah pesiar di pantai? Ya, di atas pasir bersih kita akan melihat banyak kepiting. Lucu, gesit, membuat gemas. Suatu hari ”Sang Induk Kepiting” memarahi anak-anaknya. Katanya, ”Hai, kenapa kalian berjalan mundur? Lihat, teman-temanmu slalu berjalan maju! Memalukan!”

Anak-anak kepiting bungkam. Tertunduk. Lesu. Hening. Lamaaa sekali. Tiba-tiba, salah satu anak kepiting berteriak keras, ”Ibu, bukankah kami belajar berjalan dari ibu? Bukankah selama ini ibu mengajari kami berjalan mundur?”

Sang ibu pun tertunduk. Malu. Sangat malu.

PESONA

Namanya Eroh. Usia 67 tahun. Pendidikan terakhir Kelas 3 SR (SD). Alamat Kampung Pasirkadu, Desa Santanamekar, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya. Pernah mendapat penghargaan (1) Pekan Penghijauan Narional, (2) Pekerja Sosial Masyarakat, (3) Kalpataru, (4) Penghargaan 500 Besar Dunia dari UNEP PBB.

Ibu Eroh pernah disangka ”gila” oleh RT-RW-Kuwu. Betapa tidak? Nenek renta yang menghidupi suami (lumpuh) dan anaknya dengan mencari jamur kayu itu bercerita telah menembus delapan bukit. Bahkan, tetangga pun menganggap Ibu Eroh memang gila.

Benarkah Ibu Eroh gila?

Dua tahun Ibu Eroh, yang terispirasi sebuah sungai dengan aliran deras tetapi terhalang delapan bukit dan hutan, sungguh ditaklukkan. Tiap subuh sebelum mencari jamur kuping ibu Eroh menggali dan menggali. Parit sepanjang dua kilometer lebih selesai hampir dua tahun. Menembus delapan bukit dan hutan. Berkelok-kelok bak seekor naga.

Sendirian? Memang! Selama dua tahun lebih ”meraih mimpi kampung nan subur makmur”, ibu Eroh telah menghabiskan dua buah cangkul, singkup empat buah, dan sebuah linggis. Semuanya dibeli dengan menyisihkan penjualan jamur kuping yang ia kumpulkan sehabis ”menjalani ide gila: mengalirkan sungai ke kampungnya”.

Panas terik, guyuran hujan tak mematahkan semangat nenek renta, ketika itu usia sudah 59 tahun? Dan, tak ada orang yang tahu ”kerja ibu Eroh”. Namun, begitu parit mendekati kampung, ibu Eroh meminta perangkat desa dan penduduk membantunya. Tapi, apa didapat ”dianggap gila”.

Dari ”impian gila dan dianggap orang gila” inilah Ibu Eroh berjabat tangan dengan presiden dan dinobatkan PBB sebagai 500 besar Dunia. Dan. Apakah mimpi kita