Senin, 29 Maret 2021

REFLEKSI 96 : IDEALIS

 Banyak orang salah mengartikan idealis/idealisme. Banyak orang tidak memahami idealis/idealisme. Sangkanya, orang idealis/idealisme sama dengan pemimpi atau  pengkhayal. Sangkanya, orang idealis/idealisme sama dengan orang berdosa, orang lemah, orang tidak berguna. Sangkanya,  orang idealis/idealisme orang egois, masa bodoh, atau tidak berbela rasa.

 

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia),  orang idealis  adalah orang  yang bercita-cita tinggi. Orang yang visioner. Orang yang berpikir jauh ke depan. Dalam filsafat,  idealis atau idealisme, merujuk  pengetahuan dan kebenaran tertinggi adalah ide, yang diwujudkan  dalam semua bentuk realitas sebagai manifestasi gagasan, ide, bahkan cita-cita. idealis atau idealisme hidup, kehidupan, atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yang dianggap sempurna; Dalam konteks eskatologis Kristiani, idealis/idealisme disebut pendekatan spiritual , pendekatan alegoris, pendekatan nonliteral, atau pendekatan simbolik.  Karl Barth (1886-1968) menungkap Kerajaan Surga secara idealis sebagai simbol yang mewakili kemajuan masyarakat secara umum, bukan sebagai kerajaan fisik dan politik.

 

Lebin tegas Karl Barth, menegaskan  eskatologi kristiani sebagai representasi kebenaran eksistensial yang membawa harapan individu, bukan sebagai sejarah atau sejarah masa depan.

Teologi Barth menemukan ungkapannya yang paling kuat dan meyakinkan melalui magnum opusnya (karya besar) yang terdiri dari 13 jilid.  Rangkaian tulisan ini dianggap sebagai salah satu karya teologis yang terpenting dari segala zaman.

 

Sahabat, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna. " Karena itu, kamu harus menjadi sempurna, seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.” (Matius  5: 48)

 


 

Menjadi seseorang yang memiliki prinsip dan idealis pasti akan menjadi sosok yang dikagumi banyak orang karena tidak semua orang mampu berprinsip dan bersikap idealis, dibutuhkan keberanian, keteguhan, serta komintmen yang tinggi untuk menjadi orang yang idealis.  Inilah yang disebut  IDEALISME PENYELARAS...

Tipe Idealis Penyelaras dikenali dari kepribadiannya yang kompleks dan memiliki begitu banyak pemikiran dan perasaan. Mereka orang-orang yang pada dasarnya bersifat hangat dan penuh pengertian. Mereka memiliki pemahaman yang kuat tentang sifat-sifat manusia dan seringnya menilai karakter dengan sangat baik.

 

Tipe Idealis Penyelaras memiliki fantasi yang hidup, intuisi yang nyaris seperti mampu membaca masa depan, dan seringkali sangat kreatif. Begitu berkutat dengan sebuah proyek, mereka melakukan segala daya upaya untuk mencapai tujuan-tujuan mereka.

 

Dalam kehidupan sehari-hari, mereka sering membuktikan diri sebagai pemecah masalah ulung. Mereka suka mendalami hingga ke akar permasalahan dan memiliki sifat ingin tahu alamiah serta haus akan pengetahuan

 

Pada saat bersamaan, mereka berorientasi praktis, terorganisir dengan baik, dan siap menangani situasi-situasi rumit dengan cara terstruktur dan pertimbangan matang. Ketika mereka berkonsentrasi pada sesuatu, mereka melakukannya dengan seratus persen – mereka sering begitu terbenam dalam sebuah pekerjaan sehingga melupakan hal lain di sekitar mereka. Itulah rahasia kesuksesan profesional mereka yang seringkali gilang gemilang.

Idealis adalah orang yang bertindak berdasarkan pengalaman empiris yang unik, pikiran, dan cita-cita tinggi untuk mencapai hasil maksimal. Ia juga bersikap seperti itu, karena memiliki keyakinan yang kokoh atas persoalan yang sedang ditangani.

Seorang idealis juga memiliki suatu pengaruh positif,  karena ia dapat memperlihatkan antusiasme  dan keyakinan penuh melalui keterlibatan secara emosional  atas visi. yang sedang dituju dan sering kali mendorong orang lain untuk mencapai visi itu bersama.

Menurut Henry Ford pengaruh positif lain dari seorang idealis adalah orang yang membantu orang lain untuk menjadi makmur.

Hidup yang kita jalani adalah rangkaian dari begitu banyak pilihan. Sejak membuka mata pada pagi hari dan menutup mata pada malam hari, kita senantiasa dihadapkan pada begitu banyak pilihan:  mulai dari pilihan yang mudah (mau pakai baju apa hari ini, makan apa dsb) hingga pilihan yang sulit (persoalan keluarga, masa depan, pasangan hidup, pekerjaan), termasuk memilih untuk tetap setia beribadah kepada Tuhan atau tidak. Mengapa saya katakan itu sebuah pilihan? Karena Tuhan tidak pernah memaksakan kehendak-Nya kepada kita. Dia memberikan kita kehendak bebas untuk memilih, namun bertanggung jawab. Tuhan tahu apa yang paling kita butuhkan dan tahu kapan waktu yang tepat untuk diberikan kepada kita. Kita juga patut bersyukur untuk setiap anggota keluarga yang sudah Tuhan berikan kepada kita, Ayah, Ibu, Kakak, Adik, Kakek, Nenek. Oleh karena itu kita perlu selalu bersyukur, tidak hanya pada hari ini saja, tetapi biarlah rasa syukur itu terus ada dalam hidup kita.

 

Perjalanan hidup seseorang tidak ada yang tahu. Namun yang pasti bahwa hidup ini tidak selalu berjalan seperti yang kita harapkan.

 

Kadang senang kadang susah, kadang suka kadang duka, kadang kita berada di atas, kadang di bawah. Kadang sukses kadang bisa gagal. Begitupun dengan perjalanan hidup beriman kita. Kadang kita memiliki kerinduan yang meluap-luap untuk bersyukur, memuji dan menyembah Tuhan tapi kadang juga kita berada dalam keputusasaan dan kehilangan pengharapan.

 

Namun biarlah itu semua tidak membuat kita semakin jauh dari Tuhan tapi justru lebih dekat dan menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Dia. Setiap persoalan yang kita alami, Tuhan sudah menyediakan jalan keluarnya. Orang idealis penyelaras pasti bekerja keras, anti mainstream, pefeksionis, fokus pada satu pekerjaan, tahu apa yang harus dilakukan. Mengapa? Sebab, berproses mewujudkan “sempurna seperti Bapa di Surga.

 

Membuat sebuah pilihan dalam hidup, bukanlah perkara yang mudah. Sebab setiap pilihan yang kita buat harus kita lakukan. Begitu pun ketika kita memilih untuk setia kepada Tuhan.

 “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa  murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah i mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (28:19-20) 

Itu adalah pilihan yang sulit namun kita pasti bisa melakukannya. Ingatlah segala kebaikan dan berkat yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Semua itu tidak dapat kita balas atau mampu membayarnya dengan apa yang kita miliki. Yang Tuhan kehendaki hanyalah “KITA MAU”dan Tuhan “YANG MEMAMPUKAN”.

 

Ucaplah syukur kepada Tuhan dengan mau tetap setia beribadah kepada Tuhan. Dalam keadaan apapun,  tetaplah nyatakan kesetiaan kita kepadaaNya. Tuhan memberkati kita semua...

 

REFLEKSI 95 : PAHLAWAN NASIONAL BERNARD WILHELM LAPIAN

  Bernard Wilhelm Lapian lahir di Kawangkoan, 30 Juni 1892. Wafat di Jakarta, 5 April 1977, usia 84 tahun.  Bernard Wilhelm Lapian  berjuang dari zaman Belanda, Jepang, sampai pada zaman kemerdekaan Indonesia.

Ayahnya bernama Enos Lapian dan ibunya bernama Petronella Geertruida Mapaliey. Karena jabatan ayahnya sebagai kepala Sekolah Rakyat (Volksschool) di Kawangkoan, Lapian bisa masuk sekolah dasar bahasa Belanda (Amurangse School) di Amurang, sekitar 40 kilometer dari Kawangkoan.

Lapian berusia 17 pada tahun 1909 ketika ia mulai bekerja di perusahaan pelayaran Belanda KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij). Dia bekerja untuk KPM selama 20 tahun. Pada awalnya ia bekerja di atas kapal, tapi pada tahun 1919 Lapian mendapat tanggung jawab sebagai hofmeester yang mengurus logistik kapal dan bekerja di Batavia.

Pada saat dia berada di Batavia, ia mengirim artikel-artikel ke surat kabar Pangkal Kemadjoean dengan fokus memerangi kolonialisme Belanda. Dia juga menerbitkan surat kabar bernama Fadjar Kemadjoean (1924–1928) yang berisi tulisan-tulisan berkaitan dengan memajukan kesejahteraan rakyat Indonesia  Kemudian pada tahun 1940, ia menerbitkan sebuah koran lokal di Kawangkoan bernama Semangat Hidoep.

Lapian pernah menjadi wakil rakyat dalam dua kapasitas, yang satu dalam wilayah lokal dan satu lagi untuk seluruh Hindia Belanda. Dari 1930 hingga 1942, ia adalah anggota dewan lokal yang disebut Dewan Minahasa (Minahasaraad) di Manado. Anggota dewan ini mewakili orang-orang di seluruh wilayah Minahasa dan Lapian mewakili rakyat dari Kawangkoan. Pada tahun 1938, Lapian juga menjadi anggota Dewan Rakyat untuk Hindia Belanda (Volksraad) di Batavia. Dia bergabung dengan Fraksi Nasional yang dipimpin oleh Mohammad Husni Thamrin. 


 

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, di mana semua gereja Kristen berada di bawah naungan satu institusi Indische Kerk) yang dikendalikan oleh pemerintah, Lapian bersama tokoh-tokoh lainnya (termasuk Sam Ratulangi dan AA Maramis) mendeklarasikan berdikarinya Kerapatan Gereja Protestan di Minahasa (KGPM) pada bulan Maret 1933.

KGPM adalah suatu gereja mandiri hasil bentukan putra-putri bangsa sendiri yang tidak bernaung di dalam termasuk.  Pada mulanya, Lapian diangkat sebagai sekretaris. Dia kemudian diangkat sebagai ketua KGPM pada tahun 1938 dan dalam jabatannya ia membantu mendirikan 16 sekolah dasar dan 17 sekolah menengah.

 

Pada akhir Perang Dunia II, Indonesia memproklamasikan, 17 Agustus 1945,  pada 17 Agustus 1945. Namun, Belanda “tetap bernafsu menguasai Indonesia”, denga dibantu sekutu.

 

Tanggal  14 Februari 1946, sekelompok prajurit Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) di Manado.  Dengan  bantuan pemuda setempat dan pejuang kemerdekaan,  para perwira KNIL, tertangkap.  

 

Pada tanggal 16 Februari 1946, Lapian yang merupakan Residen Manado,  ditunjuk menjadi kepala pemerintahan Republik Indonesia di Sulawesi Utara. Keadaan ini berlangsung hingga 10 Maret 1946. ketika Belanda berhasil menduduki Manado,  Lapian ditangkap dan dipenjarakan di Manado. Dia dipindahkan ke Cipinang, Jakarta,  1947.  Kemudian, dipindahkan ke Sukamiskin, Bandung, 1948. Ia dibebaskan pada tanggal 20 Desember 1949, sesudah Konferensi Meja Bundar.  

 

Lapian menjadi Penjabat Gubernur Sulawesi, tanggal 17 Agustus 1950 dan menjabat sampai 1 Juli 1951. Selama masa jabatannya sebagai pejabat gubernur, Lapian membuka dan mengembangkan daerah di sekitar Dumoga di Bolaang  Mongondow, untuk pemukiman dan pertanian. Dia membangun jalan yang menghubungkan Kota Mabagu  dan wilayah Molibago.

 

Dia juga membentuk dewan perwakilan daerah di seluruh wilayah Sulawesi dan melakukan pemilihan pasca-kemerdekaan pertama di wilayah Minahasa pada tanggal 14 Juni 1951. Dia juga memulai upaya untuk mencapai perdamaian dengan pemberontakan yang dipimpin Kahar Muzakar.

 

Lapian meninggal pada tanggal 5 April 1977 di Jakarta dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

1.       Pada tahun 1958, Lapian dianugerahi penghargaan Bintang Gerilya.

2.       Pada  tahun 1976 ia menerima penghargaan Bintang Mahaputra Pratama

3.       Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo  dalam sebuah upacara di Istana Negara, tanggal 5 November 2015, Berdasarkan: Keppres No.116/TK/Tahun 2015, Tanggal 4 November 2015

4.       Sebuah monumen didirikan di Kawangkoan untuk Lapian dan  Ch. Taulu untuk memperingati keterlibatan mereka dalam peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 di Manado.

 

REFLEKSI 94 : ROMO MANGUNGWIJAYA


Saat remaja Romo Mangun sempat ikut berperang dan berjuang sebagai prajurit BKR, TKR Divisi III, Batalyon X, Kompi Zeni 1945-1946, bahkan ia pernah menjadi komandan Seksi TP Brigade XVII, Kompi Kedu 1947-1948. Ia ikut dalam pertempuran di Magelang, Amabarawa, dan Semarang.

R.D. Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, Dipl.Ing., panggilan akrabnya ROMO MANGUN,  lahir di Ambarawa, Semarang, 6 Mei 1929. Wafat di Jakarta,  10 Februaei 1999, dalam usia 69 tahun.

dikenal sebagai rohaniwan, budayawan, arsitek, penulis, aktivis dan pembela wong cilik untuk "rakyat kecil"). Ia juga dikenal dengan panggilan populernya, Romo Mangun. Romo Mangun adalah anak sulung dari 12 bersaudara pasangan suami istri Yulianus Sumadi dan Serafin Kamdaniyah.

Romo Mangun tamat SD di Magelang tahun 1943, sekolah Teknik (setingkat SMP) di Yogyakarta tahun 1947, dan SLA di Malang tahun 1951. Setamat SLA, ia menempuh pendidikan seminari sebagai calon imam Keuskupan Agung Semarang. Waktu itu Seminari Menengah berada di Jalan Code Yogyakarta hingga 1952 kemudian pindah ke Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang hingga 1953.

Saat remaja Romo Mangun sempat ikut berperang dan berjuang sebagai prajurit BKR, TKR Divisi III, Batalyon X, Kompi Zeni 1945-1946, bahkan ia pernah menjadi komandan Seksi TP Brigade XVII, Kompi Kedu 1947-1948. Ia ikut dalam pertempuran di Magelang, Amabarawa, dan Semarang.

Romo Mangun tamat SD di Magelang tahun 1943, sekolah Teknik (setingkat SMP) di Yogyakarta tahun 1947, dan SLA di Malang tahun 1951. setelah itu ia menempuh pendidikan sebagai calon imam dengan masuk ke Seminari Menengah di Jalan Code Yogyakarta hingga 1952 dan dilanjutkan di Seminari Menengah Mertoyudhan, Magelang hingga 1953.


Saat  remaja,  Romo Mangun sempat ikut berjuang sebagai prajurit BKR, TKR Divisi III, Batalyon X, Kompi Zeni 1945-1946, bahkan ia pernah menjadi komandan Seksi TP Brigade XVII, Kompi Kedu 1947-1948. Ia ikut terliabat dalam pertempuran di Magelang, Amabarawa, dan Semarang.

Setelah tamat SLA Seminari Meryoyudan, Romo Mangun melanjutkan studi Filsafat dan Teologi di Institut Institut Filsafat dan Teologi Sancti Pauli, Yogyakarta tamat tahun 1959.  

Romo Mangun ditahbiskan pada tanggal  8 September 1959 oleh Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ. Sesudah tahbisan Romo Mangun belajar di Institut Teknologi Bandung jurusan Arsitektur sampai tahun 1960.  Tahun 1960-1966  Romo Mangun melanjutkan studi di Jerman yaitu Sekolah Tinggi Teknik Rhein, Westfalen, Aachen Jerman. Sepulang dari Jerman, ia bertugas sebagai pastor yang memperhatikan kaum miskin dan tinggal di paroki Salam, Magelang. Pada tahun 1978 ia mengikuti Felow of Aspen Institute for Humanistic Studies, Aspen, Colorado, Amerika Serikat.

Romo Mangun pernah menjadi dosen luar biasa di UGM  Yogyakarta pada 1967-1980 pada Jurusan Arsitektur,  Fakultas Teknik, UGM. Sejak 1968 ia mulai aktif menulis kolom di berbagai surat kabar dan majalah.

Tahun 1980 Romo Mangun berhenti sebagai dosen di UGM (namun sebgai arsitek independent ia terus berkarya), dan seijin dari Uskup memutuskan tinggal dan berkarya sebagai “pekerja sosial” di lembah Kali Code, Yogyakarta sampai 1986. Pada tahun 1986-1988 Rm Mangun berkarya di pantai Grigak Gunung Kidul, mendampingi penduduk setempat dalam program lingkungan hidup dan pengadaan air bersih.

Setelah itu ia kembali ke Yogyakarta, mendirikan Laboratorium Dinamika Edukasi Dasar yaitu sebuah lembaga nirlaba yang memusatkan perhatian pada bidan bidang pendidikan dasar terutama bagi anak-anak miskin dan terlantar. Romo Mangun juga aktif dan penduli pada warga korban pembangunan waduk Kedung Ombo, Jawa Tengah, sampai 1994.

Mulai tahun 1994, atas ijin dan dukungan Bapak Wardiman Djojonegoro (Mendikbud waktu itu), Romo Mangun merintis program pendidikan dasar eksperimental di SD Kanisius  Mangunan, Kalasan, sebelah timur kota Yogyakarta.  Sampai akhir hayatnya Romo Mangun tidak pernah surut bergerak sebagai pejuang kemanusiaan.  Romo Mangun ikut “demo” baik di Jakarya maupun di Yogyakarta bersama ribuan mahasiswa untuk menggalang people power yang akhirnya melengserkan penguasa Orde Baru.

Romo Mangun berpulang  pada hari Rabu siang, tanggal 10 Februari 1999, di Hotel Le Mendien Jakarta, setalah menyampaikan makalah “Peran Buku demi Kearifan dalam Iptek” dalam symposium Meningkatkan Peranan Buku dalam Upaya Membentuk Masyarakat Baru Indonesia yang diselenggarakan oleh Yayasan Obor Indonesia.

 

Romo Mangun dikenal melalui novelnya yang berjudul Burung-burung Manyar. Mendapatkan penghargaan sastra se-Asia Tenggara Ramon Magsaysay  pada tahun 1996. Ia banyak melahirkan kumpulan novel seperti di antaranya: Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa, Roro Mendut. Durga/Umayi, Buku Sastra dan Religiositas yang ditulisnya mendapat penghargaan buku non-fiksi terbaik tahun 1982.

Dalam bidang arsitektur, ia juga kerap dijuluki sebagai bapak arsitektur modern Indonesia. Salah satu penghargaan yang pernah diterimanya Penghargaan Aga Khan untuk Asitektur., yang merupakan penghargaan tertinggi karya arsitektural di dunia berkembang, untuk rancangan permukiman di tepi Kali Code, YogyakartaIa juga menerima The Ruth and Ralph Erskine Fellowship pada tahun 1995, sebagai bukti dari dedikasinya terhadap wong cilik.

Hasil jerih payahnya untuk mengubah perumahan miskin di sepanjang tepi Kali Code mengangkatnya sebagai salah satu arsitek terbaik di Indonesia. Menurut Erwinthon P. Napitupulu, penulis buku tentang Romo Mangun yang diluncurkan pada akhir tahun 2011, Romo Mangun termasuk dalam daftar 10 arsitek Indonesia terbaik.

Kekecewaan Romo terhadap sistem pendidikan di Indonesia menimbulkan gagasan-gagasan di benaknya. Dia lalu membangun Yayasan Dinamika Edukasi Dasar.  Sebelumnya, Romo membangun gagasan SD yang eksploratif pada penduduk korban proyek pembangunan Waduk Kedung Ombo,   Jawa Tengah, serta penduduk miskin di pinggiran Yogyakarta.

Rama Mangun meninggal pada hari Rabu, 10 Februari 1999 pukul 14:10 WIB  di Rumah Sakit Santo Carolus. Jakarta, setelah terkena serangan jantung saat berbicara di Hotel Le Meridien, Jakarta. Ia dimakamkan di makam para imam projo di Kentungan, Yogyakart.  

Pendidikan

  1. HIS  Fransiscus Xaverius, Muntilan, (1936-1943)
  2. STM Jetis, Yogyakarta (1943-1947)
  3. SMU-B Santo Albertus Malang (1948-1951)
  4. Seminari Menengah Kotabaru, Yogyakarta (1951)
  5. , Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang  (1952)
  6. Filsafat Teologi Sancti Pauli, Kotabaru, Yogyakarta (1953-1959)
  7. Teknik Arsitektur, ITB, Bandung (1959)
  8. Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman (1960-1966)
  9. Fellow Aspen Institute for Humanistic Studies, Colorado, AS (1978)

Jejak Langkah

1.       1947 Agresi Milier Belandat melanda Indonesia sehingga Y. B. Mangunwijaya kembali bergabung dalam TP Brigade XVII sebagai komandan TP Kompi Kedu.

  1. 1948: Masuk SMU-B Santo Albertus,Malang.  1950: Sebagai perwakilan dari Pemuda Katolik menghadiri perayaan kemenangan RI di alun-alun kota Malang. Di sini Mangun mendengar pidato Mayor Isman yang kemudian sangat berpengaruh bagi masa depannya.
  2. 1951: Lulus SMU-B Santo Albertus, melanjutkan ke Seminari Menengah  Kotabaru, Yogyakarta.
  3. 1952: Pindah ke  Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius, Mertoyudan,Magelang
  4. 1953: Melanjutkan ke Seminari Tinggi  . Sekolah di Institut Filsafat dan Teologi Santo Paulus di Kotabaru. Salah satu pengajarnya adalah Mgr. Albertrnstsus Soegijopranat SJ  1959: 8 Septermber  ditahbiskan menjadi Imam oleh Mgr. Albertrnstsus Soegijopranat SJ  dan Melanjutkan pendidikan di Teknik Arsitektur ITB.
  5. 1960: Melanjutkan pendidikan arsitektur di Rheindi Rheinixsch Westfaelische Technische, Aachen, Jerman.
  6. 1963: Menemani saat Uskup  Agung Semarang, Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ   meninggal dunia di Biara Suster Pusat Penyelenggaraan Ilahi  di Harleen. Beland 1966: Lulus pendidikan arsitektur dan kembali ke Indonesia.
  7. 1967-1980: Menjadi Pastor Paroki di Gereja Santa Theresia, Desa Salam, Magelang mulai berhubungan dengan pemuka agama lain, seperti Gus Dur  dan Ibu  Gedong Bagoes Oka, menjadi Dosen Luar Biasa jurusan Arsitektur Fakultas Teknik UGM,  mulai menulis artikel untuk koran Indonesia dan Kompas  tulisan-tulisannya kebanyakan bertema: agama, kebudayaan, dan teknologi. Juga menulis cerpen dan novel.
  8. 1975: Memenangkan Piala Kincir Emas, dalam cerpen yang diselenggarakan Radio Nederland.
  9. 1978: Atas dorongan Dr. Soedjatmoko,  Romo Mangun mengikuti kuliah singkat tentang masalah kemanusiaan sebagai Fellow of Asean Institude for Humanistic Studies , Aspen, Colorado, AS.
  10. 1980-1986: Mendampingi warga tepi Kali Code.yang terancam penggusuran. Melakukan mogok makan menolak rencana penggusuran.
  11. 1986-1994: Mendampingi warga Kedung Ombo yang menjadi korban proyek pembangunan waduk.
  12. 1992: Mendapat The Aga Khan Award untuk arsitektur Kali Code.
  13. 1994: Mendirikan laboratorium Dinamika Edukasi Dasar. Model pendidikan DED ini diterapkan di SD Kanisius Mangunan, di Kalasan, Sleman, Yogyakarta.
  14. 1998 26 Mei: Menjadi salah satu pembicara utama dalam aksi demonstrasi peringatan terbunuhnya Moses Gatutkaca di Yogyakarta.
  15. 10 Februari 1999: Wafat karena serangan jantung, setelah memberikan ceramah dalam seminar Meningkatkan Peran Buku dalam Upaya Membentuk Masyarakat Indonesia Baru di Hotel Le Meridien, Jakarta.

Karya arsitektur

  1. Permukiman warga tepi Kali Code,  tepi Yogyakarta
  2. Kompleks Religi Sendangsono,  Yogyakarta
  3. Gedung Keuskupan Agung Semarang
  4. Gedung Bentara Budaya, Jakarta
  5. Gereja Katolik Jetis, Yogyakarta
  6. Gereja Katolik Cilincing, Jakarta
  7. Markas Kowihan II
  8. Biara Trappist Gedono,Getasan, Semarang
  9. Gereja Maria Assumpta, Klaten
  10. Gereja Katolik Santa Perawan Maria di Fatima Sragen
  11. Gereja Maria Sapta Duka, Mendut
  12. Gereja Katolik St. Pius X, Blora
  13. Wisma Salam, Magelang

Penghargaan

  1. Penghargaan Kincir Emas untuk penulisan cerpen dari Radio Nederland
  2. Aga Khan Award for Architecture untuk permukiman warga pinggiran Kali Code, Yogyakarta
  3. Penghargaan arsitektur dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) untuk tempat peziarahan Sendasono Pernghargaan sastra se-Asia Tenggara Ramon Magsaysay pada tahun 1996

Buku dan tulisan

  1. Puntung-Puntung Roro Mendut, 1978
  2. Fisika Bangunan, buku Arsitektur, 1980
  3. Burung-Burung Manyar, novel, 1981
  4. Romo Rahadi, novel, 1981 (terbit dengan nama samaran Y. Wastu Wijaya)
  5. Rara Mendut, Genduk Duku, Lusi Lindri novel trilogi, dimuat 1982-1987 Kompas,  dibukukan 2008
  6. Sastra dan Religiositas, kumpulan esai, 1982
  7. Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa, novel, 1983
  8. Durga Umayi, novel, 1985
  9. Balada Becak, novel, 1985
  10. Ragawidya, 1986
  11. Pemasyarakatan susastra dipandang dari sudut budaya, 1986
  12. Esei-esei orang Republik, 1987
  13. Di Bawah Bayang-Bayang Adikuasa, 1987
  14. Wastu Citra, buku Arsitektur, 1988
  15. Burung-Burung Rantau, novel, 1992
  16. Balada dara-dara Mendut, novel, 1993
  17. Tumbal: kumpulan tulisan tentang kebudayaan, perikemanusiaan dan kemasyarakatan, 1994
  18. Gerundelan Orang Republik, 1995
  19. Menuju Indonesia Serba Baru, 1998
  20. Menuju Republik Indonesia Serikat, 1998
  21. Manusia Pascamodern, Semesta, dan Tuhan: renungan filsafat hidup, manusia modern, 1999
  22. Memuliakan Allah, Mengangkat Manusia, 1999
  23. Menjadi generasi pasca-Indonesia: kegelisahan Y.B. Mangunwijaya, 1999
  24. Merintis RI Yang Manusiawi: Republik yang adil dan beradab, 1999
  25. Pasca-Indonesia, Pasca-Einstein, 1999
  26. Pohon-Pohon Sesawi, novel, 1999
  27. Gereja Diaspora, 1999
  28. Saya Ingin Membayar Utang Kepada Rakyat, 1999
  29. Tentara dan Kaum Bersenjata, 1999
  30. Rumah Bambu, kumpulan cerpen, 2000
  31. Kita Lebih Bodoh dari Generasi Soekarno-Hatta, 2000
  32. Soeharto dalam Cerpen Indonesia, 2001
  33. Impian Dari Yogyakarta, 2003
  34. Politik Hati Nurani
  35. Putri duyung yang mendamba: renungan filsafat hidup manusia modern
  36. Spiritualitas Baru

Buku tentang Romo Mangun

  1. Sumartana, dkk. Mendidik Manusia Merdeka Romo Y.B. Mangunwijaya 65 Tahun. Institut Dian/Interfedei dan Pustaka Pelajar, 1995.
  2. Wahid, Abdurrahman. Romo Mangun Di Mata Para Sahabat. Kanisius, 1999.
  3. Priyanahadi, dkk. Y.B. Mangunwijaya, Pejuang Kemanusiaan. Kanisius, 1999.
  4. Prawoto, Eko A. Tektonika Arsitektur Y.B. Mangunwijaya. Cemeti Art House Yogyakarta, 1999.
  5. Mengenang Y.B. Mangunwijaya, Pergulatan Intelektual dalam Era Kegelisahan. Kanisius, 1999.
  6. Sindhunata. Menjadi Generasi Pasca-Indonesia, Kegelisahan Y.B. Mangunwijaya. Kanisius, 1999.
  7. Purwatma. Romo Mangun Imam bagi Kaum Kecil. Kanisius, 2001.
  8. Rahmanto, B. Y.B. Mangunwijaya: Karya dan Dunianya. Grasindo, 2001.
  9. Yahya, Iip D. dan Shakuntala, I.B. Romo Mangun Sahabat Kaum Duafa. Kanisius, 2005
  10. Murtianto, B. Kata-Kata Terakhir: Romo Mangun. Kompas, 2014.

REFLEKSI:

1)      Romo Mangun orang besar, berpikir besar, berhati besar, berjiwa besar, dan berkarya besar

2)      Romo Mangun adalah pribadi yang multidimensional

3)       Romo Mangun LAYAK MENDAPAT DELAR PAHLAWAN...

 

 

REFLEKSI : 104 PAHLAWAN NASIONAL ROBERT WOLTER MONGISIDI

Robert dilahirkan di Malalayang< Manado,   anak ke-4 dari Petrus Mongisidi dan Lina Suawa,   14 Februari 1925. Panggilan akrab Robert...