Senin, 01 Maret 2021

REFLEKSI: (10) CEMAS


hidup bukan sekadar makan atau minum

tapi bekerja membalikkan tanah

dan mengukir dunia

 

Banyak orang mudah cemas, gelisah, atau kawatir. Tiba-tiba menjadi cemas. Tiba-tiba menjadi tertekan-terbeban. Seolah ada kebuntuan. Seolah ada yang mengancam ketenangan dan kedamaian. Kecemasan menjadikan banyak orang tak berdaya.

 

Ide memasang masker pada patung, penempatan peti mati, di berbagai lokasi, menunjuk ketidakberdayaan. Ketidak mampuan menjalin relasi, komunikasi, maupun membangun “relationship” yang ujung-ujungnya perilaku tak terukur dari semua segmen kehidupan.

 

Kecemasan tidak hanya datang secara internal, tetapi juga datang dari luar diri. Entah membubung tingginya biaya hidup. Entah tidak imbangnya penghasilan dengan biaya kebutuhan. Entah melangitnya berbagai beban hidup: tarif listrik, air, gas, atau telpon. Entah biaya pendidikan anak yang sulit terjangkau. Kecemasan sering menjadikan orang kehilangan harapan.

 

Kecemasan eksternal tidak hanya berkait dengan biaya hidup, tetapi juga semakin lunturnya persaudaraan. Kecemasan datang mencekam karena hilangnya perlindungan dan rasa aman. Pembunuhan, perkosaan, perampokan menguasai pergaulan bermasyarakat, berbangsa,bernegara. Kecemasan semakin terasakan karna jaminan hidup aman menjadi langka.

 

‘Wejangan agung’

janganlah kawatir dan cemas

lihatlah burung-burung di udara

tidak menyemai dan menuai

namun tidak kelaparan

 

lihatlah bunga bakung di ladang

tidak memintal dan merajut pakaian

tapi tidak pernah kedinginan

 

hidup bukan sekadar makan atau minum

tapi bekerja membalikkan tanah

dan mengukir dunia

 

Kesadaran seperti inilah yang ada di balik ajaran wejangan agung. Jika Sang Pencipta memperhatikan binatang dan tumbuhan, apalagi kita, manusia.

Merefleksikan ‘wejangan agung’ bagaimana kita dapat melepaskan segala kecemasan kita harus kembali belajar pada alam.

 

Alam mengajarkan kita. Alam menjadikan kita bijaksana. Alam menghadirkan harmoni dan keserasian. Alam menuntun manusia untuk menyadari hakikat hidup dan tujuan hidup.

 

Pertama, belajar pada burung-burung. Buruang-burung tidak pernah menyemai atau memanen tettapi tidak mati kelaparan. Dengan bekerja keras, memiliki daya hidup, terus mencari dan mencari, kehidupan dimilikinya.

Kedua, belajar pada rumput di ladang yang tak menyerah meski terinjak dan terus terinjak.

Ketiga, belajar pada pohon bakung di ladang. Pohon bakung tidak kedinginan, tidak kepanasan meski tidak memintal.

 

Wejangan agung yang layak kita hidupkan kembali, dan terus kita hidupkan, agar segala kecemasan tidak menyentuh hidup kita. Untuk apa kita cemas akan apa yang akan kita makan, yang kita minum, yang akan kita pakai.

 

Wejangan agung akan mencabut kecemasan sampai ke akar-akarnya. Dengan demikian, kita dapat hidup ‘dengan merdaka’. Tidak ada kecemasan. Tidak ada kekuatiran. Tidak ada kegelisahan. Tidak takut kehilangan. Tidak takut tersingkirkan. Tidak takut terlupakan.. Ini sebuah pilihan, sebuah sikap. ...

 

REFLEKSI: (9) BELAS KASIH


Ada kisah menarik dari kehidupan Napoleon Bonaparte (15 Agustus 1769-5 Mei 1821) Suatu hari, seorang ibu mendatangi Napoleon memohon pengampunan bagi puteranya, yang akan dijatuhi hukuman mati. Napoleon mengingatkan pada ibu itu tentang kejahatan anaknya yang sudah keterlaluan. Hukuman paling tepat ialah: hukuman mati.

 

Tetapi dengan cepat ibu itu menjawab: "Sir, not justice, but mercy" (Tuan, bukan keadilan yang saya mohon tetapi belas kasihan) Napoleon menjawab: "Tetapi anakmu tidak layak menerima belas kasihan". Lalu ibu itu menangis seraya berkata: "Tuan bukanlah belas kasihan namanya, jika ia layak menerimanya". Napoleon tertegun sejenak, kemudian berkata: "Benar juga ibu. Dan saya mau memberikan belas kasihan”. Anak itu pun dibebaskan.

 

Kisah tersebut menggambarkan sebuah konsep tentang belas kasihan terhadap kita manusia. Dari kisah ibu dengan Napoleon, kita mendapatkan gambaran mengenai bagaimana sebenarnya bentuk belas kasih itu. Belas kasih dianugerahkan kepada manusia yang sebenarnya tidak layak menerimanya. Itulah inti dasar dari sebuah belas kasih.

 

Dalam semua kegiatan, baik pekerjaan, kehidupan pribadi, maupun kehidupan sosial, orang yang berbelas kasih akan selalu percaya diri. Rasa percaya diri menghantarkan kita menjadi orang yang supel, hangat, berempati, dan berbela rasa.

Orang yang percaya diri, di mana pun berada akan menghadirkan kehangatan hingga orang-orang sekitar ikut merasakan energi itu. Artinya, orang-orang dengan belas kasih yang tinggi terhadap sesama, tidak jarang hidupnya lebih terlihat tenang dan tenteram, ramah serta murah senyum.

 

Orang lain merasakan kedamaian berada di dekatnya: “Kebahagiaan tertinggi adalah kedamaian”.

Belas kasih bukan hanya menjadi tujuan; belas kasih merupakan sebuah sikap hidup. Sikap hidup yang didasarkan pada tiga kata kunci melihat, tergerak, dan bertindak.

 

Semuanya diawali dengan melihat: melihat orang lain, dalam keunikan dan martabatnya. Memperhatikan orang lain dan membuka diri pada orang itu. Hal ini berarti kita tergerak karena orang lain, sehingga kita membiarkan orang lain tersebut masuk dalam hati kita. Hal ini merupakan langkah kedua. Orang lain tersebut sungguh sadar akan perhatian itu dan akhirnya kita bertindak, ketika kita melakukan sesuatu pada mereka, maka mereka menjadi tetangga kita dan sesama kita.

 

Betapa hidup kita bersama sering tanpa belas kasih. Itulah sebabnya aksi brutal dan kekerasan sering kita dengar, lihat dan alami. Aksi brutal dan kekerasan tak hanya berupa tindakan, tetapi juga yang bersifat verbal. Orangtua terhadap anak. Anak terhadap pembantu. Sesama orangtua di antara suami-istri. Sesama anak dalam keluarga. Juga antara orang dewasa yang berbeda paham, ideologi dan agama bisa muncul kebrutalan dan kekerasan verbal.

 

Dunia membutuhkan belas kasih. Kita pun diundang untuk berbelas kasih. Untuk itu perlulah kita bertobat secara personal agar bisa mengalami belas kasih Allah dan menjadi pelaku belas kasih kepada sesama dan semesta. Belas kasih kepada sesama kita upayakan melalui perhatian kita kepada kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel. Belas kasih kepada semesta kita upayakan melalui gerakan ekologis pelestarian keutuhan ciptaan.

 

Seorang ibu, tentu merasa bertanggung jawab terhadap anak yang telah dilahirkannya.Sehingga menimbulkan belas kasih untuk menjaga dan merawat. Hingga pada tahap selanjutnya, seorang ibu akan berpikir dan mencari cara agar kebutuhan anaknya terpenuhi. Seperti itulah orang-orang dengan belas kasih yang tinggi.

Rasa tanggung jawab terhadap sesamanya, memicu diri sendiri untuk mencari cara agar bisa memenuhi kebutuhan orang lain.

 

Belas kasih itu pun memunculkan semangat untuk lebih giat bekerja, bahkan berjuang membangun sarana-sarana yang bisa membantu orang-orang melakukan kegiatan positif.

 

REFLEKSI: (8) KESETIAAN


“Ada orang yang bersahabat

hanya menurut kebutuhan sesaat

dan akan surut pada saat ada kesulitan

mereka akan berlarian.

 

Ada juga orang bersahabat,

lalu berubah menjadi musuh,

 

Ada yang bersahabat

karena berharap keuntungan.

 

Sahabat setia adalah perlindungan yang kokoh,

tiada bernilai, dan menjadi obat kehidupan.

Sebab, orang yang takut pada Tuhan

memelihara persahabatan dengan lurus hati,”

(Putra Sirah 6:10-17)

 

Satu hal, kini-sini, semakin langka dalam kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara adalah kesetiaan. Begitu mudahnya perceraian terjadi. Suami meninggalkan istri, pergi bersama wanita idaman lain, selalu terjadi. Anak-anak, sebagai buah kasih-sayang ditelantarkan. Demikian juga istri, meninggalkan suami hidup bersama pria idaman lain menjadi trend baru.

 

Tidak hanya itu kekerasan dalam keluarga selalu terjadi, dan terus terjadi, “Janji perkawinan” untuk hidup dalam untung-malang, suka-duka hanya terjadi dalam pengesahkan perkawinan. Seorang ibu membuang bayi hampIr terjadi dalam setiap tarikan napas.

 

Trend bunuh diri dengan meloncat dari ‘gedung tinggi’ seolah menjadi pembenaran hilangnya ‘kesetiaan’ dalam keluarga. Orang kehilangan pegangan. Kehilangan orientasi hidup. Hidup dalam kegagamangan. Dicengkeram ketakutan dan keputusasaan. Lalu, mengakhiri hidup menjadi solusi yang paling mudah.

 

Hilangnya kesetiaan semakin kentara dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, bernegara. Adakah kesetiaan para pemimpin-pejabat pada rakyat yang telah menjadikannya “berkedudukan-berpangkat”? Adakah yang melongok kepahitan hidup dan kesengsaraan para nelayan, petani, ataupun buruh? Adakah kesetiaan bila para pejabat-penguasa yang telah ‘dijadikan’ oleh rakyat memperjuangkan kepentingan mereka?

 

“Ada orang yang bersahabat

hanya menurut kebutuhan sesaat

dan akan surut pada saat ada kesulitan

mereka akan berlarian.

 

Haruskah kita surut langkah? Lebur dan bergumul dalam ketidaksetiaan? Jawabnya tegas: Tidak!

Hidup dalam kesetiaan yang sejati merupakan sikap mental positif yang harus ditumbuhkembangkan oleh setiap orang. Kita harus setia dalam segala sesuatu; setia kepada pasangan hidup , setia kepada sahabat, setia pada bangsa dan negara, dan tentu saja setia pada Sang Pencipta.

 

Sahabat setia adalah perlindungan yang kokoh,

tiada bernilai, dan obat kehidupan.

 

Sebagai warga negara YANG BERKETUHANAN, marilah, persahabatan sejati dengan asal dan tujuan hidup, Tuhan Yang Maharahim, kita perkokoh.

 

REFLEKSI: (7) KEDONDONG ATAU DURIA

 


Secara kasat mata durian dan kedondong berbeda. Bukan hanya bentuk dan ukurannya yang berbeda. Bukan hanya warna dan rasanya yang berbeda. Tetapi juga harga dan penggemarnya. Pada musim raya durian, buah ini berlimpah. Apalagi, di sentra-sentra produksi.

 

Secara tradisional, daging buah yang berlebih biasa diawetkan menjadi dodol durian. Ada yang memfermentasikannya menjadi tempoyak Durian pun kerap diolah menjadi campuran bahan kue-kue tradisional, seperti gelamai atau jenang.

 

Terkadang, durian dicampurkan dalam hidangan nasi pulut bersama dengan santan. Dalam dunia masa kini, durian (atau aromanya) biasa dicampurkan dalam permen, es krim, maupun permen dan berbagai jenis minuman penyegar lainnya.

 

Bijinya bisa dimakan sebagai camilan setelah direbus atau dibakar,atau dicampurkan dalam kolak durian. Biji durian yang mentah beracun dan tak dapat dimakan karena mengandung asam lemak siklopropena (cyclopropene). Biji durian mengandung sekitar 27%. Kuncup daun (pucuk), mahkota bunga, dan buah yang muda dapat dimasak sebagai sayuran.

 

Berbeda dengan kedondong, tentunya. Kedondong adalah tanaman buah yang tergolong ke dalam suku mangga-manggaan. Buahnya tidak sebesar dan sesangar durian. Ukuran kecil, berwarna hijau bila masih muda. Kuning keemasan bila sudah masak. Buah kedondong dapat dimakan langsung dalam kondisi segar, atau sering pula diolah menjadi rujak, asinan, acar, atau dijadikan selai. Daun kedondong dapat dijadikan penyedap dalam pembuatan pepes ikan.

 

Merefleksikan ‘durian dan kedondong’ kita berhadapan dengan dua tipe manusia.

Pertama, manusia tipe kedondong. Tipe kedondong selalu menjaga ‘citra diri’. Selalu ‘jaim’. Berpenampilan ‘perlente’. Bertutur kata halus. Berperilaku santun. Tegasnya, secara kasat mata tidak ada yang kurang: Sempurna. .

Di permukaan tampak manis dan cemerlang serba menarik dan memikat siapa pun, tetapi mengecewakan. Seperti buah kedondong, di luarnya tampak halus mengkilat bersinar tetapi di dalamnya penuh serabut.

Kedua, manusia tipe durian. Bertampang ‘angker’. Terkesan angkuh. Bahkan tidak jarang ‘divonnis’: sadis, sangar, atau kejam. Meski, ‘hati. jiwa, afeksi, sangat manis, dan terpuji.

 

Dalam realitas, kini-sini, manusia tipe kedondong malah menjadi idola-populer. Mengapa? Orang hanya menghargai yang kasat mata, penampilan, tutur kata, atau perilaku. Sebaliknya, manusia tipe durian menjadikan orang yang akan bergaul dengannya sudah ber-apri ori sebagai orang jahat-sadis-kejam. Mengapa begitu? Karena penampilannya tidak ‘mencitradirikan’.

 

Sahabat, selayaknya kita bertanya termasuk manusia kedondong atau durian? Apakah kita hanya terhenti pada hal-hal yang kasat mata atau yang lahiriah? Atau kita cerdas menghargai dan menerima orang yang secara kasat-mata angker, seram, angkuh, tetapi memiliki nurani yang tulus-ikhlas?

 

Hidup dan kehidupan tidak sekadar popular, jaga image, jaga penampilan. Kebaikan dan kesalehan seseorang tidak didasarkan pada aspek-aspek yang kasat mata, tetapi lebih-lebih sikap batin rohani.

 

 

REFLEKSI : 104 PAHLAWAN NASIONAL ROBERT WOLTER MONGISIDI

Robert dilahirkan di Malalayang< Manado,   anak ke-4 dari Petrus Mongisidi dan Lina Suawa,   14 Februari 1925. Panggilan akrab Robert...