Tahun 1958 terbitlah buku Anne Frank. Begitu terbit buku itu sangat diminati sehingga langsung diterjemahkan dalam 20 bahasa. Judul buku diambil dari nama penulisnya, Anne Frank.
Anne Frank adalah seorang gadis, 14 tahun, yang bersembunyi disotong rumah hmapir 4 tahun. Anne bersembunyi bersama orang tuanya. Mereka terpaksa mengungsi karena kebengisan Nazi terhadap kaum Yahudi. Dan, dalam pengungsian itulah Anne Frank menuliskan kegelisahan, ketakutan, kekhawatiran, kecemasan, kerinduan, harapannya dalam buku harian. Seluruh perasaan tercurahkan dalam lembar-lembar yang rapi lengkap dengan hari, tanggal, bulan, dan tahun. Seekor kucing yang bernama Kittie menjadi sahabat ’curhatnya’.
Anne Frank sendiri tidak merasakan ’nikmatinya’ menjadi penulis besar. Sebab, bersama ibu dan kakaknya Anne Frank meninggal dalam kebengisan ’camp pembuangan’. Buku harian Anne Frank pun difilmkan.
Lalu, apakah buku harian itu? Bagaimana menulis buku harian? Dan, apakah manfat buku harian?
Buku harian adalah buku yang memuat catatan peristiwa atau kejadian yang dialami setiap hari. Pasti, setiap orang akan mengalami seribu satu peristiwa atau kegiatan yang kita lakukan dari bangun tidur hingga ’berangkat tidur’. Pasti, ada beraneka ragam peristiwa atau kegiatan: suka-duka, gagal-sukses, bahagia-sengsara, cinta-benci, diterima-ditolak, dicari-dilupakan, dikagumi-dilecehkan, dipuji-dihina. Pasti, tidak semua peristiwa atau kejadian diabadikan dalam buku harian.
Diterbitkan di: 25 Nopember, 2011
Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/2232536-anne-frank/#ixzz1gHB2wG3X
tetesan embun bagai embun pagi inilah hidup sebentar semakna mengedip mata tetesan embun menandai fajar menyingsinG dan hari baru
Minggu, 11 Desember 2011
Mutiara-Mutiara
Mutiara-Mutiara adalah buku cerita anak. Ditulis oleh JS Kamdhi. Diterbitkan oleh Penerbit Bina Rena Pariwara, 1993. Diinpreskan untuk jangka waktu 10 tahun. Mutiara-Mutiara adalah buku cerita anak terbaik tingkat nasional, 1992. Sebagai Juara I lomba buku cerita anak yang diselenggarakan oleh Departemen kebudayaan yang diikuti sekitar 350 penulis.
Mutiara-Mutiara mengisahkan Anto, sebagai tokoh utama, murid kelas V SD Sukapura. Ia harus membanting tulang menyokong ekonomi keluarganya. Hal itu dilakukan karena ayahnya, yang berprofesi sebagai tukang becak menderita lumpuh. Lumpuh karena kecelakaan yang dialami saat mengayuh becaknya tertabrak mobil.
Anton membanting tulang. Meringankan beban orangtuanya. Mengambil alih pekerjaan ayahnya yang kini tak berdaya. Ia tidak pernah mengeluh. Pekerjaan rutin setiap hari dijalani dengan besar hati. Memulung barang bekas, sekolah, menyemir sepatu, dan belajar. Tak ada waktu untuk Anto berlarian dengan teman sebaya untuk bermain. Tak ada kesempatan untuk Anto bermain bola, kelereng. Tak ada waktu tersisa untuk bermain laying-layang. Tak ada Kura-kura Ninja, Pendekar sakti, atau film-film kartun kesukaan anak-anak.
Bagi Anto hari-hari adalah bekerja. Kerja mengumpulkan karton, kardus, atau apa saja untuk diuangkan pada Pak Engkus di Gunungsari. Hari-hari Anto adalah berebut rezeki dengan teman sebaya di stasiun, rumah makan untuk menawaran jasa membersihkan sepatu. Hari-hari Anto adalah menekuni setiap mata pelajaran dengan lampu minyak tanah setelah seharian memeras tenaga.
Di sekolah Anta tidak pernah rendah diri. Meski, cemooh, ejekan, selalu menimpanya. Semua diterima dengan tulus. Anto banyak menghabiskan waktu di perpustakaan. Membaca buku apa pun yang ada. Tak mengherankan pengetahuan luas. Wawasan seluas samodra meski tak punya fasilitas dan saran.
Ketekunan inilah yang menghantarkan Anto memenangi Pelajar Teladan untuk tingkat kota dan Propinsi. Ketulusan memberikan yang terbaik pada orangtua dan adiknya dengan bekerja-sekolah-belajar Anto mendapatkan ‘bea siswa’ . Berkat kerja keras dan belajar tekun itulah Anto dan ayahnya berangkulan dan dimuat di Koran kota. Ketekunan, ketulusan, kerja keras Anto menyadarkan temah-teman sekelas dan satu sekolah. Giat belajar dan membaca menjadikan sekolah Anto menjadi sekolah unggulan.
Buku yang layak menjadi bacaan wajib anak-anak Sekolah Dasar. Hingga termotivasi untuk menjadikan membaca sebagai suatu kebutuhan. Ada penerbit atau perorangan yang bersedia menerbitkan MUTIARA-MUTIARA, sebab masa kontrak dengan Bina Rena Pariwara telah habis tahun 2005…
Diterbitkan di: 25 Nopember, 2011
Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/2232617-mutiara-mutiara/#ixzz1gHAmo9Rb
Mutiara-Mutiara mengisahkan Anto, sebagai tokoh utama, murid kelas V SD Sukapura. Ia harus membanting tulang menyokong ekonomi keluarganya. Hal itu dilakukan karena ayahnya, yang berprofesi sebagai tukang becak menderita lumpuh. Lumpuh karena kecelakaan yang dialami saat mengayuh becaknya tertabrak mobil.
Anton membanting tulang. Meringankan beban orangtuanya. Mengambil alih pekerjaan ayahnya yang kini tak berdaya. Ia tidak pernah mengeluh. Pekerjaan rutin setiap hari dijalani dengan besar hati. Memulung barang bekas, sekolah, menyemir sepatu, dan belajar. Tak ada waktu untuk Anto berlarian dengan teman sebaya untuk bermain. Tak ada kesempatan untuk Anto bermain bola, kelereng. Tak ada waktu tersisa untuk bermain laying-layang. Tak ada Kura-kura Ninja, Pendekar sakti, atau film-film kartun kesukaan anak-anak.
Bagi Anto hari-hari adalah bekerja. Kerja mengumpulkan karton, kardus, atau apa saja untuk diuangkan pada Pak Engkus di Gunungsari. Hari-hari Anto adalah berebut rezeki dengan teman sebaya di stasiun, rumah makan untuk menawaran jasa membersihkan sepatu. Hari-hari Anto adalah menekuni setiap mata pelajaran dengan lampu minyak tanah setelah seharian memeras tenaga.
Di sekolah Anta tidak pernah rendah diri. Meski, cemooh, ejekan, selalu menimpanya. Semua diterima dengan tulus. Anto banyak menghabiskan waktu di perpustakaan. Membaca buku apa pun yang ada. Tak mengherankan pengetahuan luas. Wawasan seluas samodra meski tak punya fasilitas dan saran.
Ketekunan inilah yang menghantarkan Anto memenangi Pelajar Teladan untuk tingkat kota dan Propinsi. Ketulusan memberikan yang terbaik pada orangtua dan adiknya dengan bekerja-sekolah-belajar Anto mendapatkan ‘bea siswa’ . Berkat kerja keras dan belajar tekun itulah Anto dan ayahnya berangkulan dan dimuat di Koran kota. Ketekunan, ketulusan, kerja keras Anto menyadarkan temah-teman sekelas dan satu sekolah. Giat belajar dan membaca menjadikan sekolah Anto menjadi sekolah unggulan.
Buku yang layak menjadi bacaan wajib anak-anak Sekolah Dasar. Hingga termotivasi untuk menjadikan membaca sebagai suatu kebutuhan. Ada penerbit atau perorangan yang bersedia menerbitkan MUTIARA-MUTIARA, sebab masa kontrak dengan Bina Rena Pariwara telah habis tahun 2005…
Diterbitkan di: 25 Nopember, 2011
Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/2232617-mutiara-mutiara/#ixzz1gHAmo9Rb
Proverbia Latina
Proverbia Latina: Pepatah-pepatah Bahasa Latin B.J. Marwoto dan H. Witdarmono.2004 (cetak II: 2006).376.ISBN: 976-709-154-6
Dalam setiap bahasa, pepatah mempunyai peran sangat penting. Tidak hanya makna yang terkandung di dalamnya, tetapi juga menunjukkan kualitas dan ekstensitas sumber daya manusia. Di dalam setiap pepatah selalu hadir nilai-nilai humaniora, nilai-nilai etika, nilai-nilai moral, bahkan nilai religiositas. “Kalau takut dilimbur pasang jangan berumah di tepi pantai” mengisyarakatkan agar kita berani menghadapi setiap tantangan-hambatan-kesulitan-cobaan.
Proverbia Latina: Pepatah-pepatah Bahasa Latin yang ditulis oleh B.J. Marwoto dan H. Witdarmono menambah khazanah pepatah dalam berinteraksi sosial. Sebab, pepatah mampu menyederhanakan sebuah sikap-nilai-prinsip-ajaran sehingga mudah dicerna. Membaca dan merefleksikan pepatah berarti berkemampuan memahami tatanilai baru, paradigma baru, sikap baru, dan orientasi baru.
Hal itulah yang mendasari penyusun menghadirkan Proverbina Latina. Diawali dengan petunjuk penggunaan Buku: mengingat bahasa latin menjadi induk bahasa dan tidak lagi diajarkan sekolah-sekolah umum. Tersusun secara alfabetis, dengan huruf tebal (bold) disertai penjelasan atau pengartian dan pengertian dengan dicetak miring (italic). Dan, yang menarik disodorkan sebuah pengartian dan pengertian bebas. Pengartian dan pengertian yang kontekstual.
Kelebihan Proverbina Latina dibandingkan dengan buku-buku kumpulan pepatah adalah lengkapnya referensi dan perihal kebahasaan bahasa latin.
Lengkapnya referensi terindikasikan dengan adanya latar belakang baik berkait dengan sejarah maupun tokoh yang menggunakannya. Di samping itu, tersodorkan pula sinonim-sinonim atau bentuk-bentuk pepatah lain dalam konteks dan problematika yang mirip.
Berkait dengan kebahasaan bahasa latin kita disodori pengetahuan dasar bahasa latin. Pertama, tentang deklinasi yang menjadi ciri khas bahasa latin untuk semua kata benda. Artinya, bentuk kata benda akan berubah berkait dengan konteks pemakaiannya. Kedua,konyugasi yakni perubahan kata kerja baik karena pelaku (dalam bahasa Perancis juga kita temukan). Adanya index sangat membantu untuk mencari hal-hal yang kita perlukan.
Buku yang sangat menarik untuk guru bahasa, siswa, mahasiswa, bahkan mereka yang berkecimpung dalam pencerdasan-pemberdayaan-pencerahan. Pun sangat penting untuk para penulis baik penulis tetap maupun penulis lepas.
Diterbitkan di: 25 Nopember, 2011
Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/linguistics/2232650-proverbia-latina-pepatah-pepatah-bahasa/#ixzz1gHAQ5ka4
Dalam setiap bahasa, pepatah mempunyai peran sangat penting. Tidak hanya makna yang terkandung di dalamnya, tetapi juga menunjukkan kualitas dan ekstensitas sumber daya manusia. Di dalam setiap pepatah selalu hadir nilai-nilai humaniora, nilai-nilai etika, nilai-nilai moral, bahkan nilai religiositas. “Kalau takut dilimbur pasang jangan berumah di tepi pantai” mengisyarakatkan agar kita berani menghadapi setiap tantangan-hambatan-kesulitan-cobaan.
Proverbia Latina: Pepatah-pepatah Bahasa Latin yang ditulis oleh B.J. Marwoto dan H. Witdarmono menambah khazanah pepatah dalam berinteraksi sosial. Sebab, pepatah mampu menyederhanakan sebuah sikap-nilai-prinsip-ajaran sehingga mudah dicerna. Membaca dan merefleksikan pepatah berarti berkemampuan memahami tatanilai baru, paradigma baru, sikap baru, dan orientasi baru.
Hal itulah yang mendasari penyusun menghadirkan Proverbina Latina. Diawali dengan petunjuk penggunaan Buku: mengingat bahasa latin menjadi induk bahasa dan tidak lagi diajarkan sekolah-sekolah umum. Tersusun secara alfabetis, dengan huruf tebal (bold) disertai penjelasan atau pengartian dan pengertian dengan dicetak miring (italic). Dan, yang menarik disodorkan sebuah pengartian dan pengertian bebas. Pengartian dan pengertian yang kontekstual.
Kelebihan Proverbina Latina dibandingkan dengan buku-buku kumpulan pepatah adalah lengkapnya referensi dan perihal kebahasaan bahasa latin.
Lengkapnya referensi terindikasikan dengan adanya latar belakang baik berkait dengan sejarah maupun tokoh yang menggunakannya. Di samping itu, tersodorkan pula sinonim-sinonim atau bentuk-bentuk pepatah lain dalam konteks dan problematika yang mirip.
Berkait dengan kebahasaan bahasa latin kita disodori pengetahuan dasar bahasa latin. Pertama, tentang deklinasi yang menjadi ciri khas bahasa latin untuk semua kata benda. Artinya, bentuk kata benda akan berubah berkait dengan konteks pemakaiannya. Kedua,konyugasi yakni perubahan kata kerja baik karena pelaku (dalam bahasa Perancis juga kita temukan). Adanya index sangat membantu untuk mencari hal-hal yang kita perlukan.
Buku yang sangat menarik untuk guru bahasa, siswa, mahasiswa, bahkan mereka yang berkecimpung dalam pencerdasan-pemberdayaan-pencerahan. Pun sangat penting untuk para penulis baik penulis tetap maupun penulis lepas.
Diterbitkan di: 25 Nopember, 2011
Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/linguistics/2232650-proverbia-latina-pepatah-pepatah-bahasa/#ixzz1gHAQ5ka4
Sastra Peranakan Tionghoa
Siapakah yang belum mengenal Abdul Hadi W.M., Arief Budiman, Marga T, atau Mira W.? Abdul Hadi W.M, adalah penyair kesohor dengan puisi-puisi reflektif-religius. Arief Budiman adalah tokoh budayawan yang ikut membidani lahirnya Manifes Kebudayaan. Marga T adalah novelis produktif hingga beberapa novelnya pernah difilmkan. Demikian juga dengan Mira W. novelis yang handal dengan beberapa novel yang juga telah difilmkan. Mereka berempat hanya sebagian penerus ‘sastrawan-budayawan peranakan Tionghoa’ yang telah mewarnai sejarah sastra dan budaya Indonesia.
Leo Suryadinata, selaku penyunting buku Sastra Peranakan Tionghoa Indonesia, mencoba menghadirkan tokoh-tokoh sastrawan dan karya-karya mereka secara runtut dari tahun 1870 hingga 1966. Buku setebal 392 halaman itu terbagi menjadi dua bagian: kajian umum dan kajian khusus.
Kajian umum menghadirkan 4 tulisan: 2 tulisan dibuat oleh Leo Suryadinata dengan judul Dari Sastra Peranakan ke Sastra Indonesia dan Cerita Silat Tionghoa di Indonesia: Ulasan Ringkas. Satu tulisan disajikan oleh Jakob Sumardjo dengan judul Latar Sosiologis Sastra Melayu Tionghoa. Dan, satu tulisan depersembahkan oleh Claude Salmon dengan menggarap judul Masyarakat Pribumi Indonesia di Mata Penulis.
Kajian Khusus menghadirkan 4 kajian: 2 kajian dikerjakan oleh Myra Sidharta, satu tulisan oleh Claude Siman, dan satu tulisan oleh Monique Zaini Lajoubert. Claude Salmon menghadirkan kajian Asal-Usul Novel Melayu Modern. Monique Zaini Lajoubert dengan mengupas Syair Cerita Siti Akbari. Sedangkan Myra Sidharta menghadirkan kajian Kwee Tek Hoay: Pengarang Serbabisa dan Tan Hong Boen: Pengarang Seribu Wajah.
Karya-karya kreatif Sastrawan Peranakan Tionghoa tidak hanya beragam dalam bentuk tetapi juga dalam tema. Mereka bukan hanya menerbitkan dalam bentuk buku tetapi juga dimuat bersambung dalam majalah sastra yang mereka dirikan seperti “Penghidupan’ dan ‘Cerita Roman’. Bahkan, sebelum sastra Indonesia lahir, Sastrawan Peranakan Tionghoa telah menyodorkan novel-novel modern yang mengupas permasalahan kawin campur antarsuku seperti karya Thio Cin Boen (1885-1940) dengan dua novel yang kesohor Cerita Oey Se (1903) dan Cerita Nyai Sumirah (1917) yang tidak kalah bernilainya dengan Azab dan Sengsara atau Sitti Nurbaya.
Karya sastra yang paling spektakuler ditulis oleh Kwee Tek Hoay yang berjudul ‘Drama di Boeven Digul’ setebal 718 halaman. Sebelum diterbitkan buku ini dimuat bersambung hingga memakan waktu 3 tahun: dari 1929 hingga 1931.
Sastra Peranakan Tionghoa Indonesia, karya Leo Suryadinata, layak menjadi referensi pelajar dan mahasiswa hingga membuka cakrawala baru tentang sejarah sastra dan budaya Indonesia. Sastrawan Peranakan Tionghoa mempunya andil besar dalam pertumbuhan-perkembangannya.
Diterbitkan di: 30 Nopember, 2011
Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/2234223-sastra-peranakan-tionghoa-indonesia/#ixzz1gHA6XgXl
Leo Suryadinata, selaku penyunting buku Sastra Peranakan Tionghoa Indonesia, mencoba menghadirkan tokoh-tokoh sastrawan dan karya-karya mereka secara runtut dari tahun 1870 hingga 1966. Buku setebal 392 halaman itu terbagi menjadi dua bagian: kajian umum dan kajian khusus.
Kajian umum menghadirkan 4 tulisan: 2 tulisan dibuat oleh Leo Suryadinata dengan judul Dari Sastra Peranakan ke Sastra Indonesia dan Cerita Silat Tionghoa di Indonesia: Ulasan Ringkas. Satu tulisan disajikan oleh Jakob Sumardjo dengan judul Latar Sosiologis Sastra Melayu Tionghoa. Dan, satu tulisan depersembahkan oleh Claude Salmon dengan menggarap judul Masyarakat Pribumi Indonesia di Mata Penulis.
Kajian Khusus menghadirkan 4 kajian: 2 kajian dikerjakan oleh Myra Sidharta, satu tulisan oleh Claude Siman, dan satu tulisan oleh Monique Zaini Lajoubert. Claude Salmon menghadirkan kajian Asal-Usul Novel Melayu Modern. Monique Zaini Lajoubert dengan mengupas Syair Cerita Siti Akbari. Sedangkan Myra Sidharta menghadirkan kajian Kwee Tek Hoay: Pengarang Serbabisa dan Tan Hong Boen: Pengarang Seribu Wajah.
Karya-karya kreatif Sastrawan Peranakan Tionghoa tidak hanya beragam dalam bentuk tetapi juga dalam tema. Mereka bukan hanya menerbitkan dalam bentuk buku tetapi juga dimuat bersambung dalam majalah sastra yang mereka dirikan seperti “Penghidupan’ dan ‘Cerita Roman’. Bahkan, sebelum sastra Indonesia lahir, Sastrawan Peranakan Tionghoa telah menyodorkan novel-novel modern yang mengupas permasalahan kawin campur antarsuku seperti karya Thio Cin Boen (1885-1940) dengan dua novel yang kesohor Cerita Oey Se (1903) dan Cerita Nyai Sumirah (1917) yang tidak kalah bernilainya dengan Azab dan Sengsara atau Sitti Nurbaya.
Karya sastra yang paling spektakuler ditulis oleh Kwee Tek Hoay yang berjudul ‘Drama di Boeven Digul’ setebal 718 halaman. Sebelum diterbitkan buku ini dimuat bersambung hingga memakan waktu 3 tahun: dari 1929 hingga 1931.
Sastra Peranakan Tionghoa Indonesia, karya Leo Suryadinata, layak menjadi referensi pelajar dan mahasiswa hingga membuka cakrawala baru tentang sejarah sastra dan budaya Indonesia. Sastrawan Peranakan Tionghoa mempunya andil besar dalam pertumbuhan-perkembangannya.
Diterbitkan di: 30 Nopember, 2011
Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/2234223-sastra-peranakan-tionghoa-indonesia/#ixzz1gHA6XgXl
Les Femmes Saventes
Bersyukurlah saya karena dari koleksi buku, selama ini, terdapat karya “Empu Komedi dalam Kesusastraan Barat, Jean Baptiste Poquelin, dengan nama panggung Moliere. Buku berjudul ‘Les Femmes Savantes ‘ dipentaskan pertama kali pada 11 Maret 1672, 10 bulan sebelum Moliere meninggal dunia.
Entah berapa kali saya telah membacanya, saya tidak mengingatnya. Namun, sehabis membacanya selalu terbersit “roh kreatif Moliere”: tu dois faire et donner.
Molier adalah creator komedi modern Perancis. Les Femmes Savantes merupakan salah satu karya spektarulernya. Saya sangat kagum. Betapa tidak? Dalam waktu 14 tahun malang-melintang dalam dunia pentas dengan 85 pementasan, 31 naskah Moliere tulis sendiri. Artinya, dalam satu tahun Molier pentas sebanyak 6 kali, Dalam satu tahun, ia menulis 2 naskah pentas. Sebuah prestasi luar biasa dengan konteks kehidupan pada abat ke-17.
Molier dilahirkan di Paris, Perancis, 15 Januari 1622. Dalam usia 51 tahun, sepekan setelah pementasan “Le Malade Imaginaire (10 Februari 1673) Molier meninggal dunia, 17 Februari 1673.
Ibu tercintanya, Marie Cresse, meninggal saat Moliere berusia 10 tahun. Sehingga, bisa dipahami, apalagi Moliere tidak begitu dekat dengan ayahnya, Jean Poquelin, tragedi menjadi tema-tema drama Moliere. Humor, satire menjadi sarana Moliere untuk ‘menjadi saksi kebenaran’ dalam mengungkap kemunafikan, kritik social. Tak mengherankan ada beberapa naskah yang dilarang untuk dipentaskan. Sekadar menyebut contoh, “Le Tartuffe ou L’Imposteur” atau “Dom Juan ou Festin de pierre”.
Les Femmes Savantes terdiri dari lima babak. Menceritakan Henriette dan Clitandre. Sepasang kekasih yang mendapat dukungan dari sang ayah, tetapi mendapat halangan dari sang ibu. Babak pertama dimulai kegalauan Henriette. Ia meminta pada Clitandre agar meminta restu pada calon ibu mertua. Konflik pun mengalir hingga babak kelima Henriette harus kecewa karena cinta hanya dipahami sebatas uang saja. Kelebihan Les Femmes Savantes adalah kritikan atau satire pada pendidikan untuk kaum perempuan Perancis.
Harus diakui bahwa kehadiran Moliere sangat berpengaruh pad masa restorasi Perancis pada abad 19. Kelompok-kelompok teater di Perancis dan Inggris meniru gaya, tema, dan bentuk pentas Moliere. Sayang, buku-buku Moliere yang telah diindonesiakan sangat terbatas, hingga tidak dapat menjadi komparasi dalam berteater. Meski, ada beberapa pentas teater yang mengadaptasi karya Moliere.
Diterbitkan di: 01 Desember, 2011
Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/2234641-lea-femmes-savantes/#ixzz1gH9nlS00
Entah berapa kali saya telah membacanya, saya tidak mengingatnya. Namun, sehabis membacanya selalu terbersit “roh kreatif Moliere”: tu dois faire et donner.
Molier adalah creator komedi modern Perancis. Les Femmes Savantes merupakan salah satu karya spektarulernya. Saya sangat kagum. Betapa tidak? Dalam waktu 14 tahun malang-melintang dalam dunia pentas dengan 85 pementasan, 31 naskah Moliere tulis sendiri. Artinya, dalam satu tahun Molier pentas sebanyak 6 kali, Dalam satu tahun, ia menulis 2 naskah pentas. Sebuah prestasi luar biasa dengan konteks kehidupan pada abat ke-17.
Molier dilahirkan di Paris, Perancis, 15 Januari 1622. Dalam usia 51 tahun, sepekan setelah pementasan “Le Malade Imaginaire (10 Februari 1673) Molier meninggal dunia, 17 Februari 1673.
Ibu tercintanya, Marie Cresse, meninggal saat Moliere berusia 10 tahun. Sehingga, bisa dipahami, apalagi Moliere tidak begitu dekat dengan ayahnya, Jean Poquelin, tragedi menjadi tema-tema drama Moliere. Humor, satire menjadi sarana Moliere untuk ‘menjadi saksi kebenaran’ dalam mengungkap kemunafikan, kritik social. Tak mengherankan ada beberapa naskah yang dilarang untuk dipentaskan. Sekadar menyebut contoh, “Le Tartuffe ou L’Imposteur” atau “Dom Juan ou Festin de pierre”.
Les Femmes Savantes terdiri dari lima babak. Menceritakan Henriette dan Clitandre. Sepasang kekasih yang mendapat dukungan dari sang ayah, tetapi mendapat halangan dari sang ibu. Babak pertama dimulai kegalauan Henriette. Ia meminta pada Clitandre agar meminta restu pada calon ibu mertua. Konflik pun mengalir hingga babak kelima Henriette harus kecewa karena cinta hanya dipahami sebatas uang saja. Kelebihan Les Femmes Savantes adalah kritikan atau satire pada pendidikan untuk kaum perempuan Perancis.
Harus diakui bahwa kehadiran Moliere sangat berpengaruh pad masa restorasi Perancis pada abad 19. Kelompok-kelompok teater di Perancis dan Inggris meniru gaya, tema, dan bentuk pentas Moliere. Sayang, buku-buku Moliere yang telah diindonesiakan sangat terbatas, hingga tidak dapat menjadi komparasi dalam berteater. Meski, ada beberapa pentas teater yang mengadaptasi karya Moliere.
Diterbitkan di: 01 Desember, 2011
Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/2234641-lea-femmes-savantes/#ixzz1gH9nlS00
World on Fire
Saya beruntung, 7 tahun yang lalu, 28 April 2004, salah satu mantan murid, sehabis melawat ke Amerika, mengantar ‘buah tangan’ berupa buku. Seolah, mantan murid itu, tahu apa yang sedang saya pikirkan dan impikan yaitu “World on Fire” karya Amy Chua.
Kini, ternyata ketika saya baca ulang buku setebal 348 halaman, tersusun dengan pendahuluan, bagian pertama yang mengulas The Economic Impact of Globalization dengan 4 rincian (Rubies and Rice Paddies, Llama Fetuses, The Sevent Oligarch, The Ibo of Careroon ), bagian kedua yang mengupas The Political Consequenses of Globalization, dengan 4 rincian (Backlash against Market, Backlash against Democracy, Backlash against Market Dominant Minorities, dan Mising Blood), dan bagian ketiga yang membahas Ethononationalism and the West, juga dengan 4 rincian (The Underside of Western Free Market Democracy, The Middle Eastern Cauldron, Why They Hate Us, dan The Future of Free Market Cemodcracy) masih sangat relevan. Tidak hanya untuk Indonesia dan Asia Tenggara, tetapi juga menjadi permasalahan dunia: minoritas yang dominan dalam pasar era global.
World on Fire dimulai dengan pengalaman tragis, yang mendasari pembahasan minoritas yang dominan dalam pasar era global. Peristiwa dibunuhnya Leona, tante Amy Chua, seolah menjadi pembenaran Amy Chua bahwa “minoritas yang dominan dalam panguasan perekonomian berkonsekuensi logis pada kecemburuan social.
Didukung observasi dan data akurat hampir di seluruh pelosok dunia “World on Fire” menjadi “refleksi” bagaimana mengurai korelasi “minoritas etnis yang dominan dalam ekononomi” dengan “mayoritas etnis yang miskin”. Kegagalan mengelola kontradiktif akan melahirkan kerusuhan social: Serbia (1990), Rwanda (1994), Indonesia (1998), Israel (1998). Dalam konotasi yang sama, kejadian pengeboman ‘menara kembar” Amerika (2001) merupakan indicator dominasi minoritas.
Setelah tujuh tahun World on Fire masih tetap relevan dan penting. Selayaknya menjadi referensi bagi para penguasa di seluruh dunia agar berkemampuan menyeimbangkan “dominasi minoritas etnis bidang ekonomi” dengan “mayoritas miskin yang dominan”.
Setelah “Word on Fire” menjadi bestseller versi New York Time, Business Week dan buku terbaik tahun 2003, Amy Chua menulis “ Day of Empire : How Hyperpowers Rice to Global” (2007), dan “Battle Hymn of the Tiger Mother “ (2011). Ibu dua anak yang lahir tahun 1962 ini layak mendapat hadiah nobel perdamaian karena sumbangan pemikiran yang tajam dan akurat ‘bagaimana menjinakkan pasar bebas para era globalisasi”.
Diterbitkan di: 02 Desember, 2011
Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/2235126-world/#ixzz1gH9X6dfm
Kini, ternyata ketika saya baca ulang buku setebal 348 halaman, tersusun dengan pendahuluan, bagian pertama yang mengulas The Economic Impact of Globalization dengan 4 rincian (Rubies and Rice Paddies, Llama Fetuses, The Sevent Oligarch, The Ibo of Careroon ), bagian kedua yang mengupas The Political Consequenses of Globalization, dengan 4 rincian (Backlash against Market, Backlash against Democracy, Backlash against Market Dominant Minorities, dan Mising Blood), dan bagian ketiga yang membahas Ethononationalism and the West, juga dengan 4 rincian (The Underside of Western Free Market Democracy, The Middle Eastern Cauldron, Why They Hate Us, dan The Future of Free Market Cemodcracy) masih sangat relevan. Tidak hanya untuk Indonesia dan Asia Tenggara, tetapi juga menjadi permasalahan dunia: minoritas yang dominan dalam pasar era global.
World on Fire dimulai dengan pengalaman tragis, yang mendasari pembahasan minoritas yang dominan dalam pasar era global. Peristiwa dibunuhnya Leona, tante Amy Chua, seolah menjadi pembenaran Amy Chua bahwa “minoritas yang dominan dalam panguasan perekonomian berkonsekuensi logis pada kecemburuan social.
Didukung observasi dan data akurat hampir di seluruh pelosok dunia “World on Fire” menjadi “refleksi” bagaimana mengurai korelasi “minoritas etnis yang dominan dalam ekononomi” dengan “mayoritas etnis yang miskin”. Kegagalan mengelola kontradiktif akan melahirkan kerusuhan social: Serbia (1990), Rwanda (1994), Indonesia (1998), Israel (1998). Dalam konotasi yang sama, kejadian pengeboman ‘menara kembar” Amerika (2001) merupakan indicator dominasi minoritas.
Setelah tujuh tahun World on Fire masih tetap relevan dan penting. Selayaknya menjadi referensi bagi para penguasa di seluruh dunia agar berkemampuan menyeimbangkan “dominasi minoritas etnis bidang ekonomi” dengan “mayoritas miskin yang dominan”.
Setelah “Word on Fire” menjadi bestseller versi New York Time, Business Week dan buku terbaik tahun 2003, Amy Chua menulis “ Day of Empire : How Hyperpowers Rice to Global” (2007), dan “Battle Hymn of the Tiger Mother “ (2011). Ibu dua anak yang lahir tahun 1962 ini layak mendapat hadiah nobel perdamaian karena sumbangan pemikiran yang tajam dan akurat ‘bagaimana menjinakkan pasar bebas para era globalisasi”.
Diterbitkan di: 02 Desember, 2011
Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/2235126-world/#ixzz1gH9X6dfm
Anda Luar Biasa
Anda Luar Biasa, oleh Eni Kusuma, Cetakan I, 2007, Fivestar Publishing, 154 +xix: 978-979-1 5887-0-6
Sesuai dengan judulnya, memang buku yang Luar biasa. Betapa tidak? Eni Kusuma tidak berpendidikan tinggi. Semasa kecil pemalu, minder, dan gagap. Bukan dari keluarga berada dan berpangkat. Rumahnya pun di pinggiran Banyuwangi. Bau ‘anyir sampah’ menjadi ‘parfum’ setiap tarikan napas. Selepas SMA Megeri 1 Banyuwangi, melamar pekerjaan di kota kelahirannya demi mengangkat perekonimian keluarga. Namun, tak ada yang memperhatikan. Bahkan, cemooh yang Eni Kusuma peroleh.
Eny pun berketetapan untuk menjadi TKW. Hongkong sebagai pilihan untuk mengubah nasibnya. Pada awal sebagai ‘pembantu rumah tangga ’ yang ‘seabreg’ pekerjaan, cemooh, gertakan, kemarahan,hinaan menjadi bagian hidup Eny. Dan, “Dasar Indonesia goblok!” memicunya untuk bangkit: meski hanya pembantu harus mampu tunjukkan yang luar biasa pada majikannya.
Anda Luar Biasa, adalah bukti bahwa ‘pembantu rumah tangga’ dapat berprestasi dan dikenal dunia. Buku setebal 154 halaman itu diawali dengan ucapan terima kasih Eni Kusuma kepada pendiri webside Pembelajaran.Com yang juga motivator ternama dan penulis buku-buku bestseller Andrias Harifa, Motivator Andrie Wongso, Tung Desem Waringin, Andrew H., sera sederet motivator, penulis, pemimpin redaksi, bahkan sastrawan yang telah menjadi “guru” Eni Kusuma baik dengan email maupun dengan milis. Pengantar buku ditulis oleh Jennie S.Bev, penulis buku Rahasia Sukses Terbesar, yang kini tinggal di San Fransisco Bay Area.
Setelah ‘ucapan terima kasih’ dan ‘pengantar’, Eni Kusuma mengantar dengan pendahuluan singkat. Di dalamnya terungkap bahwa sukses menjadi kerinduan hakiki setiap orang. Sukses merupakan ‘fokus pergumulan hidup manusia. Untuk mencapai sukses, setiap orang harus berjuang” mengisi otak” dengan “harapan dan cita-cita”. Eny Kusuma menempuh dengan menghabiskan waktunya dengan membaca. Membaca menjadi kebutuhan bagi ini hingga waktu istirahat sejak SD hingga SMA dihabiskan untuk ‘melumat isi buku’ yang ada di perpustakaan.
Anda Luar Biasa, terdiri atas 26 judul tulisan yang disusun sedemikian rupa sehingga sehabis membacanya, kita diyakinkan dan diteguhkan untuk selalu berubah, bertumbuh, berkembang, dan berbuah. Di awali dengan refleksi Jalur A dan Jalur B, Pilih Mana?, dan diakhiri dengan refleksi Revolusi Babu. Tidak yakin dan percaya? Bacalah Anda Luar Biasa sehingga sunguh-sungguh luar biasa.
Kelebihan Anda Luar Biasa karya ‘seorang pembantu rumah tangga atau babu’ yang hanya lulusan sekolah menengah atas tetapi pujian kita temukan di sampul depan dalam, sampul belakang luar dalam. Tidak hanya para motivator dan penulis buku bestseller (sekadar menyebut beberapa nama: Andrie Wongso, Tung Desem Waringin, Andrias Harefa), editor, sastrawan, pemimpin redaksi, pengusaha, psikolah, dan bahkan Konsul Penerangan Sosial Budaya, KJRI Hongkong menuliskan pujian.
Buku yang layak di baca oleh anak-anak muda yang sedang berproses merentang masa depan: Anda Luar Biasa!!
Diterbitkan di: 05 Desember, 2011
Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/2235913-anda-luar-biasa/#ixzz1gH9Gar1V
Sesuai dengan judulnya, memang buku yang Luar biasa. Betapa tidak? Eni Kusuma tidak berpendidikan tinggi. Semasa kecil pemalu, minder, dan gagap. Bukan dari keluarga berada dan berpangkat. Rumahnya pun di pinggiran Banyuwangi. Bau ‘anyir sampah’ menjadi ‘parfum’ setiap tarikan napas. Selepas SMA Megeri 1 Banyuwangi, melamar pekerjaan di kota kelahirannya demi mengangkat perekonimian keluarga. Namun, tak ada yang memperhatikan. Bahkan, cemooh yang Eni Kusuma peroleh.
Eny pun berketetapan untuk menjadi TKW. Hongkong sebagai pilihan untuk mengubah nasibnya. Pada awal sebagai ‘pembantu rumah tangga ’ yang ‘seabreg’ pekerjaan, cemooh, gertakan, kemarahan,hinaan menjadi bagian hidup Eny. Dan, “Dasar Indonesia goblok!” memicunya untuk bangkit: meski hanya pembantu harus mampu tunjukkan yang luar biasa pada majikannya.
Anda Luar Biasa, adalah bukti bahwa ‘pembantu rumah tangga’ dapat berprestasi dan dikenal dunia. Buku setebal 154 halaman itu diawali dengan ucapan terima kasih Eni Kusuma kepada pendiri webside Pembelajaran.Com yang juga motivator ternama dan penulis buku-buku bestseller Andrias Harifa, Motivator Andrie Wongso, Tung Desem Waringin, Andrew H., sera sederet motivator, penulis, pemimpin redaksi, bahkan sastrawan yang telah menjadi “guru” Eni Kusuma baik dengan email maupun dengan milis. Pengantar buku ditulis oleh Jennie S.Bev, penulis buku Rahasia Sukses Terbesar, yang kini tinggal di San Fransisco Bay Area.
Setelah ‘ucapan terima kasih’ dan ‘pengantar’, Eni Kusuma mengantar dengan pendahuluan singkat. Di dalamnya terungkap bahwa sukses menjadi kerinduan hakiki setiap orang. Sukses merupakan ‘fokus pergumulan hidup manusia. Untuk mencapai sukses, setiap orang harus berjuang” mengisi otak” dengan “harapan dan cita-cita”. Eny Kusuma menempuh dengan menghabiskan waktunya dengan membaca. Membaca menjadi kebutuhan bagi ini hingga waktu istirahat sejak SD hingga SMA dihabiskan untuk ‘melumat isi buku’ yang ada di perpustakaan.
Anda Luar Biasa, terdiri atas 26 judul tulisan yang disusun sedemikian rupa sehingga sehabis membacanya, kita diyakinkan dan diteguhkan untuk selalu berubah, bertumbuh, berkembang, dan berbuah. Di awali dengan refleksi Jalur A dan Jalur B, Pilih Mana?, dan diakhiri dengan refleksi Revolusi Babu. Tidak yakin dan percaya? Bacalah Anda Luar Biasa sehingga sunguh-sungguh luar biasa.
Kelebihan Anda Luar Biasa karya ‘seorang pembantu rumah tangga atau babu’ yang hanya lulusan sekolah menengah atas tetapi pujian kita temukan di sampul depan dalam, sampul belakang luar dalam. Tidak hanya para motivator dan penulis buku bestseller (sekadar menyebut beberapa nama: Andrie Wongso, Tung Desem Waringin, Andrias Harefa), editor, sastrawan, pemimpin redaksi, pengusaha, psikolah, dan bahkan Konsul Penerangan Sosial Budaya, KJRI Hongkong menuliskan pujian.
Buku yang layak di baca oleh anak-anak muda yang sedang berproses merentang masa depan: Anda Luar Biasa!!
Diterbitkan di: 05 Desember, 2011
Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/2235913-anda-luar-biasa/#ixzz1gH9Gar1V
Langganan:
Postingan (Atom)
REFLEKSI : 104 PAHLAWAN NASIONAL ROBERT WOLTER MONGISIDI
Robert dilahirkan di Malalayang< Manado, anak ke-4 dari Petrus Mongisidi dan Lina Suawa, 14 Februari 1925. Panggilan akrab Robert...
-
Izaak Huru Doko lahir di Sabu, Nusa Tenggara Timur, 20 November 1913. Wafat di Kupang, Nusa Tenggara Timur, 29 Juli 1985, usia 71 tahun. ...
-
Robert dilahirkan di Malalayang< Manado, anak ke-4 dari Petrus Mongisidi dan Lina Suawa, 14 Februari 1925. Panggilan akrab Robert...
-
Bernard Wilhelm Lapian lahir di Kawangkoan, 30 Juni 1892. Wafat di Jakarta, 5 April 1977, usia 84 tahun. Bernard Wilhelm Lapian berju...